Pestisida di Hulu Ciliwung, Puncak

Lokasi Studi Hulu Ciliwung

[Penulis: Riska Darmawanti]
Bicara Ciliwung, beragam penelitian banyak dilakukan terkait dampak perubahan tata guna lahan terhadap hidrogeologi dan kualitas air. Kualitas air adalah salah satu indikator dampak kegiatan manusia yang paling mudah diamati. Data Pusarpedal (2012) menunjukkan bahwa hanya 1 dari 22 titik pantau yang terdiri atas sungai utama dan anak-anak sungai (dari hulu hingga hilir), yaitu Sungai Cisampay yang memenuhi Kelas 1. 21 titik pantau lainnya masuk dalam kategori kelas 4 (PP no 82/2001) alias tercemar berat. Bukan hal yang aneh dan tidak terduga dengan melihat buruknya pengelolaan tata guna lahan. Sekarang fokus hanya pada Puncak, hulu Sungai Ciliwung.
Puncak dikenal sebagai area wisata, mulai kebun binatang hingga wisata kebun teh bisa ditemui di sini. Penelitian yang dilakukan oleh Konsorsium Penyelamatan Puncak (KPP) atau Save Puncak Konsorsium (2017) yang dilakukan pada enam (6) lokasi menunjukkan bahwa kegiatan manusia menyebabkan peningkatan beban pencemaran. Kelas air pada ke-6 lokasi sampling ini adalah kelas III. Pengukuran terhadap Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) berkisar antara 3,0 - 3,7 mg/L dan 12,0 - 38,4 mg/L. Kedua parameter ini adalah parameter wajib pemantauan kualitas air. Sayangnya, kedua parameter ini hanya memberikan gambaran awal terhadap kondisi kualitas air, dan tidak menunjukkan tingkat racun di perairan.
Melihat bahwa mayoritas tata guna lahan yang ada di Puncak adalah pertanian, maka KPP melakukan pendataan penggunaan pestisida dan pengukurannya pada perairan. Klorpirifos (Pestisida Organofosfat - OP), Carbamat, Glifosat, Paraquat, Dithiocarbamat (DTC), Sipermetrin (Piretroid), dan Kloro-nikotinil (nikotinoid).

Lahan pertanian di hulu Ciliwung

Berikut keterangan singkat terkait dampak paparan beberapa pestisida yang ditemukan:
1) Dithiocarbamat (DTC) bersifat lipofilik (terikat kuat pada jaringan lemak/lipid), Dampak racun muncul skibat paparan pada kulit, pernafasan, dan tertelan. Dampak yang sering ditemui neuropati periferal. Neuropati periferal mengacu pada kondisi dimana saraf yang membawa pesan dari dan kepada otak dan sumsum tulang belakang dari dan ke seluruh tubuh mengalami kerusakan. DTC mendorong munculnya neuropati yang menyerupai Parkinson
2) Sipermetrin tergolong dalam kelompok piretroid. Gejala keracunan yang seringkali ditemui: muntah, diare, kelelahan berlebihan, hipersalivasi (menghasilkan air liur dalam jumlah banyak - ngeces), kesulitan bernafas, hipo/hipertermia,kram. Kulit yang tarpapar secara terus menerus akan menyebabkan dermatitis (iritasi kulit) dengan rasa gatal dan kemerahan. Menghirup secara terus menerus dan dalam jumlah besar akan menyebabkan terbentuknya gejala alergi dan asma.
3) Carbamate dan Pestisida Organofosfat (OP). Keduanya memiliki gejala keracunan yang sama. Gejala yang muncul macam sakit kepala, muntah, diare, dan kelelahan berlebihan. Gejala keracunan bisa muncul dari hitungan beberapa menit hingga beberapa minggu setelah terpapar. Beberapa OP macam klorpirifos menyebabkan neuropati yang muncul 1 hingga 3 minggu setelah paparan. Pada jangka panjaang, gangguan defisit dan parkinson menghantui
4) Paraquat. Gejala keracunan paraquat termasuk 'rasa' terbakar hingga mulut, kesulitan bernafasan, hilang nafsu makan, sakit kepala, mimisan, kerusakan pada kuku (mulai dari perubahan warna hingga lepas). Paraquat menyebabkan gangguan hormon: menekan produksi testosteron, FSH (follicle stimulating hormon), LH (luteinizing hormon). Pada beberapa kasus, menyebabkan hipotiroid.
5) Glifosat. Produk yang mengandung glifosat dapat menyebabkan iritasi mata atau kulit, sementara menelannya akan menyebabkan terbakarnya mulut dan tenggorakan, sesak nafas, muntah, dan diare. Roundup adalah salah satu produk yang mengandung glifosat (herbisida) yang populer di kalangan petani. Berdasarkan penelitian, roundup bersifat toksik terhadap DNA manusia mesko dilarutkan hingga konsentrasi yang 450 kali lipat lebih rendah daripada aturan yang ditetapkan. Bahan 'tidak aktif' macam pelarut, pengawet, dan surfaktan berkontribusi terhadap tingkat racun glifosat dan bersifat racun pada sel manusia.

Dari ke-7 jenis pestisida tersebut, KPP memilih paraquat sebagai target pengukuran. Pengukuran dilakukan pada 3 lokasi sampling yaitu: Sungai Cisampay, Sungai Citamiang, dan Telaga Saat. Konsentrasi paraquat pada 3 lokasi sampling berkisar antara 0,014 - 1,044 mg/L. Konsentrasi tertinggi ditemukan pada Telaga Saat yang berada di tengah-tengah perkebunan teh.
Pengukuran dan inventarisasi yang dilakukan oleh KPP merupakan pijakan awal untuk melakukan pemantauan atau penelitian terkait beban pencemaran pestisida di daerah hulu Ciliwung. Pestisida (yang disebutkan diatas), umumnya bersifat sangat beracun pada lebah, ikan, serangga air, dan plankton. Yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana dampak paparan pestisida ini terhadap kesehatan petani. 

(Riska Darmawanti, Koordinator Indonesia Water Community of Practice )


Previous
Next Post »