Mengurai Kebutuhan Pengelolaan Sampah Ciliwung

Secara Integratif-Partisipatif Berbasis Komunitas

Mempertanyakan keberadaan sungai Tjiliwoeng (Ciliwung) mengarahkan kita semua untuk berpikir sejenak bagaimana kondisinya saat ini. Selama beberapa tahun berselang, sungai ini sepertinya hanya menyisakan kecemasan bagi penghuni di bantaran sungai dan sebagian warga ibukota Jakarta. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya kita semua mempunyai kewajiban untuk menelusuri segala bentuk permasalahan (object matters) menyangkut DAS ini khususnya mengenai sumber-sumber ancaman (hazard potency), yang mengakibatkan menurunnya fungsi ekologi dan rusaknya lingkungan DAS Tjiliwoeng seperti akibat tingginya sedimentasi dan sampah serta perubahan fungsi sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik dan industri. Padahal DAS ini seharusnya memberikan kemanfaatan yang berlebih. Sebaliknya DAS ini kini menjadi salah satu sumber ancaman utama bencana bagi warga ibukota. Oleh karena itu tidak berlebihan bilamana sungai ini dikatakan hanya menyisakan bencana di setiap tahunnya saat musim hujan tiba. Keasrian dan keelokan sungai ini berangsur-angsur menghilang. Sampah kini menjadi penghias bebatuan diantara jeram sungai Tjiliwoeng.

Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partipatif berbasis komuniti

Sementara itu, sejarah mencatat bahwa Tjiliwoeng memiliki sejarah panjang peradaban manusia yang mengusahakannya mulai dari manusia purba hingga manusia modern. Kehidupan manusia dulu sangat bergantung dari keberadaannya. Peran dan fungsi sungai ini seharusnya memberikan hikmah dan i’tibhar (baca: pelajaran) bagi kita semua untuk selalu mengupayakan kelestariannya. Proses interaksi alamiah, yang didorong tingginya nilai kemanfaatan, antara manusia dan alam menjadikan sungai ini sangat penting kala itu untuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan manusia dan sumber kelangsungan hidup manusia serta sebagai rumah bagi hidupan liar yang ada. Seyogyanya DAS ini memberikan kemasalahan hidup manusia secara luas, baik manusia sekarang maupun yang akan datang serta menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan (sustainability) masa depan makhluk hidup yang secara terus menerus memanfaatkan keberadaannya. Namun sayangnya, saat ini fungsi itu mulai perlahan-lahan terkikis yang kemungkinan sebagai akibat sikap oknum yang tak selaras dan tak mengindahkan kelestarian lingkungan DAS seperti tindakan membuang sampah secara serampangan ke badan sungai. Padahal sungai ini menjadi bagian hidup mereka sendiri- yang membangun sebuah kebudayaan tersendiri. Sayang sekali, kebudayaan itu juga tergeser oleh dinamika perkembangan jaman. Namun nilai-nilai budaya itu masih ada meskipun hanya dalam tutur lisan saja-yang sebagian besar masih tersimpan dalam memori sebagian penduduk kampung Pulo Geulis.

Kampung Pulo Geulis, sebuah perkampungan tua. Benteng terakhir rekam jejak interaksi antara manusia dan lingkungan Ciliwung yang tersisa. Perkampungan yang berada di selatan terminal Baranangsiang. Lokasi perkampungan ini tepat berada di atas sebuah delta yang terbentuk dalam badan sungai Ciliwung. Menurut beberapa informasi yang ada perkampungan ini memiliki sejarah panjang keterkaitan-interaksi (interaksianisme) dengan sungai Ciliwung. Keberadaan benda budaya (cultural artifact) berupa vihara Mahabrahma atau kelenteng Bio Pongkoh. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sebuah sistem religi-budaya yang berkembang antara penghuni-pemukim dan sungai Ciliwung sejak dahulu. Keberadaan sistem religi-budaya memungkinkan adanya sinergisitas dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan yang lestari yang bermuara pada praktek kearifan lokal (local wisdom) masyarakat yang mendiami kampung ini pada awalnya.

Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partisipatif berbasis komuniti sepertinya menjadikan permasalahan sungai ini tidak ada habisnya. Keberadaan modal sosial menjadi sangat penting untuk menjalin kebersamaan dalam pengelolaan khususnya dalam menjaga kebersihan sungai dari sampah. Minimnya informasi mengenai kondisi sosial budaya masyarakat, karakteristik masyarakat, dan modal sosial menjadikan proses pengelolaan hanya bertumpu pada pemerintah saja, padahal kesemua hal tersebut sangat berperan dalam menciptakan sebuah sistem dan struktur pengelolaan DAS Tjiliwoeng yang holistik dan integratif-partisipatif demi terciptanya sebuah sungai yang bersih, sejuk, elok, dan asri. Pulo Geulis perlu menjadi areal pilot project dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Karena Pulo Geulis adalah lokasi strategis untuk mengembalikan kembali keasrian-keelokan Tjiliwoeng dengan mengembalikan sistem budaya-religi yang sebelumnya pernah ada. Sistem budaya-religi mampu mengikat individu-individu dalam komunitas untuk bertindak dan bertingkah laku secara arif sesuai dengan kesepakatan yang ada. Dengan begitu sampah berangsur-angsur akan menghilang (berkurang) bilamana ada penghargaan pada lingkungan oleh kelompok penerima manfaat (beneficiary group) yang didukung oleh tata kelola lokal yang baik dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang mengatur antar individu-individu dalam komunitas masyarakat ini.

Penulis: Firin
Previous
Next Post »