"Orang Indonesia tidak takut krisis air"

Begitulah ungkapan seorang kawan dari Jogja. Hasil pengamatannya di beberapa daerah kekeringan di seputaran Jawa Tengah dan DIY. Mereka menganggap bahwa kurang air sebagai bagian dari takdir.

Ah tidak usah di kawasan desa, di Jakarta saja yg menjadi ibu kota negeri ini, krisis air dianggap biasa saja. Kasus kekeringan air di beberapa daerah di Jakarta, saat pasokan bahan baku dari Waduk Jatiluhur ke Palyja menurun beberapa waktu lalu. Di desa. Kalau kurang air tinggal ngumpulin uang, beli satu tangki. Selesai.

Seorang kawan yang lain, dalam sebuah rapat menceritakan hal serupa. Saat teteh yg bantuin di rumahnya terkena gatal-gatal akibat air sungai yg biasa mereka pakai mandi tercemar polusi buangan rumah tangga. Mungkin pada saat aliran besar, tidak jadi masalah. Saat kekeringan seperti sekarang ini, gatal-gatal menjadi ancaman.

Tidak ada yg perlu ditakuti dalam hidup di Indonesia ini. Semuanya mengalir begitu saja. "It’s gonna be OK", kata orang Amrik. Sepenuhnya kita meresapi ungkapan sederhana dan mendalam ini. Dan kita memilih diam. Kalau memang air merupakan masalah, tentunya orang akan bereaksi. Berbuat sesuatu. Nyatanya khan tidak.

Salah kaprah memaknai takdir!

tulisan ini dibuat oleh Rita Mustikasari
gambar mandi sampah diambil dari sini

Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Anonim
admin
19 Mei 2010 14.43 ×

krisis air sih udah biasa tapi kalau krisis air buatan pabrik kasian pabrik nya jadi bangkrut donk. enak nya anak2 mandi di air yang berwarna hijau lumut apa ngak ada air lain bro klau ngak ada ya maklum lah nama nya juga krisis air, jadinya mandi nya pakai air sirup lah

Reply
avatar
8 Juni 2010 22.24 ×

ya harus diakui, orang kita memang punya daya adaptasi yg tinggi. walau rasanya yah kurang pas pemakaiannya daya ini. kalau udah tahu bahwa harga air bersih mahal, mbok yah rame-rame memikirkan bagaimana cara penyelesaiannya?

Reply
avatar