Menyatukan Gerak dan Langkah Warga Untuk Ciliwung

Ciliwung kini tak jauh berbeda dengan Ciliwung 5 sampai 15 tahun lalu. Air sungainya tetap saja keruh dan berbau. Setiap 4 atau 5 tahun sekali tetap saja terjadi luapan air yang luar biasa besar hingga merendam daerah‐daerah rendah yang berada di hilirnya. Tumpukan sampah masih saja mudah dijumpai di sana. Tak banyak juga upaya serius yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Kesadaran dan kepedulian warga biasanya hanya menjadi argumen pada setiap acara aksi bersih sungai namun tak pernah menjadi gerakan warga yang masif dan berkelanjutan. Sementara Pemerintah pun nampaknya enggan untuk berpeluh dan mengotori tangannya menata wilayah daerah aliran sungai dan bantarannya, serta membersihkan tumpukan sampahnya. Berbagai forum dan aturan perundangan telah digagas, namun tak satupun yang bisa dipastikan keberhasilan pelaksanaannya.

Nuansa kekacauan, kerusakan, dan ketidakpedulian di Ciliwung selalu terjadi di sepanjang alirannya. Tak hanya Jakarta yang mengalaminya, Bogor pun punya. Selama ini Bogor selalu dianggap sebagai sumber masalah bagi banjir di Jakarta. Tuduhan ini tampaknya cukup wajar jika dikaitkan dengan masalah sampah di Bogor. Pada tahun 2007 lalu, Kota Bogor pernah memperoleh predikat sebagai “kota terjorok” dibandingkan kota‐kota lain di Indonesia dengan ukuran yang sama.

Kenyataan‐kenyataan ini telah mendorong terbentuknya sebuah kelompok warga di Bogor untuk mewujudkan kepeduliannya pada Sungai Ciliwung. Kelompok yang pada akhirnya disebut Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) ini memilih aktivitas‐aktivitas sederhana dalam upayanya mengajak warga yang lain untuk lebih peduli. Salah satu pilihan utamanya adalah melakukan aksi memulung sampah‐sampah yang terserak di sepanjang Sungai Ciliwung.

KPC melakukan aksi mulung sampah pertamanya setahun yang lalu, pada tanggal 15 Maret 2009. Aksi ini lalu berlanjut menjadi aksi mingguan. Setiap minggu para laskar karung KPC pun melakukan aksinya sampai sekarang. Setidaknya lebih dari 45 kali kegiatan ini dilakukan. Tak hanya melakukan aksi mulung, KPC pun melakukan serangkaian kegiatan penyadaran publik dalam bentuk: 1) Pemutaran Video Keliling, 2) Panggung Musik Dangdut Keliling, 3) Kompetisi Mulung antar Kelurahan se‐Kota Bogor, dan 4) Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah dasar yang berada di sekitar Sungai Ciliwung. Di sela‐sela kegiatan tersebut, para anggota KPC juga melakukan serangkaian kegiatan penelitian sederhana tentang kualitas air, biota sungai, herpetofauna, dan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Keragaman jenis kegiatan ini dilandasi dengan sebuah kesadaran bersama untuk mewujudkan mimpi mengembalikan fungsi ekologis dan sosial Sungai Ciliwung bagi warga sekitarnya. Mimpi ini menggunakan slogan kampanye “Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak”.

Kini, usia KPC sudah setahun. Banyak hal yang telah dilakukan dan tentunya banyak pula pelajaran yang dapat dipetik dalam setahun perjalanan ini. Perjuangan KPC sebagai sebuah gerakan warga tentu saja belum selesai. Perubahan yang diinginkan masih belum tercapai sepenuhnya. Setelah setahun usianya, KPC merasa perlu menyelenggarakan sebuah acara peringatan yang sekaligus memberi arti pada upaya mengkampanyekan gerakan bersih lingkungan dan gerakan perbaikan fungsi ekologi dan sosial Sungai Ciliwung. Peringatan setahun usia KPC ini akan dikemas dalam sebuah acara dengan tema “Menyatukan Gerak dan Langkah Warga Untuk Ciliwung”.
Previous
Next Post »