Semua Bermimpi

Beberapa minggu, beberapa bulan berdiskusi di mailist LAWALATA IPB (Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor) mengenai apa yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kita yang tinggal di Bogor bisa peduli terhadap Ciliwung sedikit ada titik terang.


Cerita pengalaman seseorang yang mancing di Sungai Ciliwung yang dapatnya hanya ikan sapu-sapu membuat beberapa anggota member mailist tertawa geli, terharu, dan kasihan. Entah itu kasihan terhadap orang yang mancingnya atau terhadap kondisi sungainya. Cerita semakin seru ketika seorang teman mengupload berupa foto apa saja yang dilihatnya selama menyusuri Sungai Ciliwung . Mulai dari foto orang buang hajat di sungai, sampah-sampah menumpuk dimana-mana. Lucunya lagi seorang teman ini sempat mengirim foto sebuah pakaian dalam wanita (BH) yang tersangkut di sebuah batu. Dari cerita dan foto yang dikirimkan seorang teman dimailist ini membuat kita semua tersentak, betapa runyam dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi sungai ini.

Namun beberapa bulan yang lalu ini hanya baru sebatas bahan diskusi. Baru sebatas penyampaian ide-ide. Dan tak diduga, pada bulan Januari akhir KOMPAS sudah membuat sebuah Ekspedisi Ciliwung dan diekspose dalam Koran Harian KOMPAS selama beberapa hari. Diskusi semakin alot dan panas. Apalagi dipancing-pancing dengan kata-kata “Jangan hanya diskusi dong. Ide doang. Udah keduluan KOMPAS tuh”. Tapi bukan karena KOMPAS sudah membuat cerita mengenai Ciliwung kita bergerak. Kita bergerak dan mencoba melakukan aksi karena kita harus menyalurkan semangat dan ide yang selama ini hanya ada dalam bentuk sebuah tulisan disebuah mailist. Ide dan semangat ini jangan padam karena tidak ada yang mau memulai.

Sungai Ciliwung semakin meradang. Semakin tertekan. Sungai Ciliwung yang dulunya sangat asri dan mengalirkan air yang jernih. Mulai dari Zaman Penjajahan Belanda dan Jepang sungai ini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Sekarang semua berubah. Sungai Ciliwung sekarang hanya sebagai tempat pembuangan sampah. Tidak ada lagi masyarakat yang mau mandi dan nongkrong-nongkrong di sungai ini. Tidak ada lagi yang mau mancing di sungai ini. Sudah banyak sampah dan berbagai macam kotoran disepanjang sungai ini.

Kita yang tinggal di Bogor terutama dan masyarakat diluar Bogor masih bisa bermimpi. Bermimpi Ciliwung bisa bersih dan asri. Entah itu berapa puluh tahun yang akan datang. Tapi setidaknya kita bisa berusaha mewujudkan mimpi itu. Bogor tidak bisa dipisahkan dari Ciliwung. Ciliwung tidak bisa dipisahkan dari Bogor.

Semoga ini awal mula yang baik untuk mewujudkan mimpi itu. Semoga akan ada banyak orang yang bermimpi seperti kami dan bergabung bersama kami mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Salam,
Een Irawan Putra
Previous
Next Post »