Penggalan Wadjah Tjiliwoeng (2)

Sub title: Jembatan Gantoeng Pulo Geulis
(lanjoetan dari tjerita sebeloemnya)

Tak jauh dari kantor kelurahan kira-kira berjarak 10 meteran. Sebelah barat dari kantor kelurahan. Terdapat sebuah jembatan dengan penamaan yang menggugah soal semangat pergerakan yang banyak dimotori oleh kaum pemuda. Jembatan Pemuda. Jembatan gantung yang berwarna cat hijau, yang saat ini dihiasi atribut bendera partai politik yang menjajakan dagangannya, yang membentang di atas sungai Tjiliwoeng dengan panjang kira-kira 15 meteran. Jembatan ini berhadapan langsung dengan Pulo Geulis dengan jarak sekitar 20 meter berada didepannya (sebelah barat sungai) jika dilihat dari hulunya. Ia menghubungkan antara daratan sebelah kiri dan kanan sungai Tjiliwoeng.

Jembatan ini sepertinya harus menjadi base camp media campaign para pejuang Tjiliwoeng Dream, khususnya mbah karuhun Hapsoro, selaku inisiator dan pimpinan Tjiliwoeng Dream. Base camp untuk wilayah kelurahan Baranang siang dan Pulo Geulis serta sekitarnya, yang menjadi salah satu target lokasi pengembalian khasanah kebudayaan Tjiliweong masa lampau serta mengembalikan keelokan keanggunan dan kemurnian Tjilioweng. Ia menggambarkan semangat juang di tengah amuk deras laju jeramnya sungai Tjiliwoeng sebelum membelah dan membentuk delta Pulo Geulis. Hanya pemuda yang bisa memberikan perubahan yang signifikan dan masif. Youth: Change, we believe, mengutip dari materi campaign Presiden terpilih AS, Barrack Obama. Bukan nada tendensius. Tapi menggugah kaum muda untuk bangkit mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”.

Pada sisi jembatan gantung lainnya yang tak bernama. Jembatan yang menghubungkan daratan seberang kanan dari aliran sungai Tjilioweng dengan daratan Pulo Geulis. Aku mencoba mewawancarai seorang penjual jasa pulsa HP sekaligus mengisi pulsa HP. Dalam kesempatan ini aku mencoba sedikit menanyakan tentang kehidupan masyarakat delta Pulo Geulis ini dalam hal suplai air bersih untuk minum dan MCK. Banyak warga yang memanfaatkan air ledeng, Air PAM. Sebagian lagi menggunakan air keruh Tjiliwoeng bagi warga kurang mampu. Dalam proses transaksi pulsa ini aku juga sempatkan untuk menanyakan tokoh masyarakat atau sesepuh dan tokoh pemuda kampung Pulo Geulis. Dari sini aku mendapatkan informasi bahwa tokoh masyarakat kampung ini adalah pak Shodik. Dalam anganku, aku harus ketemu dengan orang ini untuk menanyakan legenda delta dan pemukiman, persepsi masyarakat dan budaya yang berkembang di Pulo Geulis serta pola interaksinya dengan Tjiliwoeng.

Berbeda pada seberang sungai sebelah kiri jika dilihat dari hulunya, nampak perumahan warga rapat merayap. Tak ada sedikitpun ruang terbuka. Hanya kepengapan yang menyelimutinya. Dari lima meter arah timur kantor kelurahan itu, di samping tumpukan sampah yang berserakan di seberang kanan badan sungai. Tak diduga. Ada base camp hunian. Dialah pak Adun (49) seorang laki-laki menjelang paruh abad, yang berasal Rangkas, kabupaten Lebak, mencoba menggantungkan hidupnya dari sampah yang dibuang oleh masyarakat di sekitar kelurahan Baranangsiang. Dia mengais dan memulung sampah warga yang dibuang ke bibir sungai, meskipun tidak sampai hanyut dalam badan sungai.

Dalam kesempatan perjumpaan itu tak lupa aku manfaatkan kesempatan untuk melakukan sedikit wawancara ringan mengenai aktivitasnya. Sebenarnya ada hasrat untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari laki-laki paruh baya dan tunawisma itu. Berhubung tim sosek dan pemetaan “Tjiliwoeng Dream” yang dikomandani oleh saudara Muslich (26) terpaksa wawancara hanya berselang beberapa menit karena hasrus kumpul bersama dengan tim aksi bersih. Hanya berjarak sekitar tiga meteran dari timbunan sampah yang dikaisnya, dia membangun semacam bivak kecil sebagai tempat peristirahatan dan sepertinya sebagai tempat mukimnya hingga masa senjanya. Sambil menyuguhkan sebatang rokok salah satu merek yang terlaris saat ini dan banyak mensponsori tontonan olahraga sepak bola dalam negeri dan mancanegara aku memulai obrolan dengan dia.

“Sudah berapa lama bapak disini?, tanyaku”.
Empat poe? jawabnya. waduh...dalam pikirku apa itu poe. Aku yakin itu poe (sunda) artinya tahun. “Oh begitu ya pak,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepala sebagai simbol bahwa aku tahu maksudnya. Padahal aku pusing apa artinya poe itu.

“Bapak ambil sampah dimana saja?” tanyaku.
“Dari sini, sungai, stasiun, dan jalanan Bogor mas? Ujarnya”. Kontan langsung aku menanyakan pertanyaan lanjutan.

“Dalam sehari bapak dapat berapa kilo dan berapa jual per kilo-nya?” Tanyaku. “Genep kilo per hari. Harganya tilu ribu dan kadang 2,5 per kilo?” Kata Pak Adun.

Bersama dengan rekannya, yang saat itu sedang tidur pulas di bawah rindang pohon di samping tumpukan sampah hasil pulungannya. Dia menuturkan cerita yang banyak didominasi bahasa sunda, yang terkadang aku harus mencerna lebih untuk memahaminya. Dia mengumpulkan sampah yang berjenis plastik seperti gelas, botol plastik air mineral dan sampah berupa kertas-kardus. Setiap hari datang seorang pengumpul untuk membeli hasil pulungannya.

Tugas mulia dan suci pun dilakukannya meskipun dengan pekerjaan yang hina yang sebagian dari kita menilainya. Dari hasil memulung sampahnya dia kirimkan ke istrinya yang berada di lebak. Pria paruh baya yang beranak dua yang telah berkeluarga semuanya, mencoba perntungannya dari sikap yang jauh dari orientasi budaya bersih dan harmoni warga yang membuang sampah-sampah kehidupan.

Tak jauh dari bivaknya, terlihat hasil tumpukan pulungan sampahnya yang sudah dibersihkan. Sampah sisa-sisa hasil sampah pulungannya berserakan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mencoba dikumpulkan lagi. Inilah potret bentuk rendahnya pengetahuan dan tingkat kesadaran meraka. Program pendampingan dan penyadaran sangat diperlukan bagi mereka seperti pak Adun ini. Mereka butuh sentuhan dan perhatian kita bersama. Mereka butuh bimbingan dan konseling khususnya soal penanganan sampah. Bukan salah dia sepenuhnya. Salah kita bersama yang secara tak sadar membiarkan dia sendiri dalam ketidaktahuannya dan ketidakberdayaannya.

Memang peran ini seharusnya dilakukan oleh semua stakeholder terkait khususnya dalam penciptaan impian bersama soal Tjiliwoeng Dream.

Aku pikir dia akan berubah jika kita mencoba memanusiakan dia (people to people) dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan dengan cara yang baik pula. “Perubahan hanya ada” jika semua ada hasrat dan inisiatif untuk bergerak. Bukan diam membisu. Menyaksikan kelalaian dan prilaku yang tak harmoni yang dilakukan oleh saudara kita lainnya.

Keterlibatan dan penyadaran terhadap kantor lurah Baranangsiang sepertinya tak boleh terlupakan. Mereka lupa. Lupa akan tanggung jawab dan perannya. Mereka kering. Kering akan aksi sosial kebersamaan. Mereka sendiri. Membutuhkan teman untuk bergerak. Mereka tuli. Karena tak ada pemahaman dan masukan untuknya. Mereka perlu kita semua untuk “Tjiliwoeng Dream”.


Salam
Firin
Previous
Next Post »