Dunia Tidak Mengerti Kita

Entah datang darimana ide orang2 ini untuk menjadikan Kali Ciliwung yg mengalir di dekat rumahnya menjadi tempat sampah.

Yg pertama kulakukan saat balik dari acara bersih kali ciliwung adalah mandi. Rasanya ingin setiap helai rambut, setiap pori-pori disikat bersih. Membayangkan betapa asiknya kegiatan hari tadi, mengorek, mengeluarkan, ngupyakeun (dibilas), memasukan ke karung dan terakhir ngangkut sampah ke pinggir kali. Kalau udah asik begitu, tidak ingat tuh soal kotor dan bau. Tapi untuk memulai dan saat mengakhiri, nah barulah rasa itu muncul.

Pagi ini mungut ke-13. Beberapa menit kubutuhkan untuk mencapai lokasi. Informasi yg kudapat dari Sandi tidak sesuai dengan pemahamanku. Jembatan di bawah Bogor Permai ternyata sepi. Tidak ada spanduk besar tanda peringatan mulung sedang dilakukan. Sandi sendiri tidak ada di lokasi pemungutan, lagi ketemuan sama orang di Kedai katanya. Dia memang sibuk dengan persiapan Festival Ciliwung.

Cuman 4 orang kata Uci yg asik dengan kameranya, kemudian kulihat juga ada Nino yg semangat dengan garpu dan linggis nya. Dua orang di sebelah kiri jembatan adalah Een dan Oiek. Hari dan Anas ada di sebelah kanan jembatan. Enakan di sebelah kiri mbak, adem karena berada di bawah jembatan dan ada di batu2 di pinggir kali. Kulihat dikejauhan Hari sedang asik membersihkan plastik2 diantara bebatuan di terik matahari pagi.

Di kejauhan kulihat beberapa orang sedang melakukan pengukuran sungai. Ternyata mereka dari kelompok peneliti, anak2 faperikan. Mereka mengukur lebar sungai, mengambil sampel air dan mengorek2 lumut yg menempel di bebatuan.

Irama hening diantara gemerisik air yg mengalir diantara batu2, sungguh rasa dan pemandangan nikmat. Jijik tiba2 merasuk saat melihat air comberan yg mengocor dari beberapa pembuangan limbah rumah tangga. Hinyai (apa yah bahasa indonesianya). Satu dua bulu ayam melintas. Dan terus melintas bulu ayam dalam 10 menit kemudian aku berdiri di kolong jembatan gantung kampung rambutan sempur. Ah menggangu sekali sampah2 ini.

Asik melihat Een dan Oiek mengorek2 sampah plastik diantara bebatuan. Sampah2 itu dicuci dan dibilas ke air mengalir agar tanah dan pasirnya hilang. Katanya memang begitu seharusnya SOP mungut sampah ini. Untuk memudahkan orang yg milah sampah nantinya.

Tiba segulungan plastik keresek warna merah dan keresek warna hitam disertai beberapa potongan sayuran beterbangan dari atas jembatan. Seorang ibu yg biasa membuang sampah di pinggiran sungai merasa terganggu karena ternyata ada orang yg ngorek2 tempat sampahnya dia. Maka sang ibu pun berinisiatif menggeser titik pembuangan sampahnya agak ke tengah sungai. Agar sampah plastik segera hilang dari pandangan mta. Pergi jauh entah kemana. Toh itu bukan urusan ku, begitulah kurasa yg ada di kepalanya.

Orang yg jorok dan miskin hati. Masak sama sekali tidak kepikiran kalo buang sampah di sungai bikin masalah. Masak tidak empati sama orang yg belepotan keringat mungutin sampah yg mereka buat sendiri.

Kupaksakan memungut sampah plastik di sekitar tempat ku berdiri. Biar sedikit paling tidak hari minggu ini aku berbuat, mengangkat sampah keluar dari sungai. Aku terus berjalan menuju ke arah hilir sambil mungut yg bisa dipungut. Karung goni ku jelas belum penuh kali ini. Sampai suatu saat kuputuskan untuk berhenti karena daerah tempat aku jongkok itu sudah tidak terlihat plastik. Dilalah tiba-tiba ada dua buah keresek plastik. Seseorang baru saja melemparkan itu ke sungai.


Kampung yg aneh! Orang2 yg aneh!
Betapa susahnya kah hal sampah ini dimengerti dunia?
Apa yg harus kita lakukan dengan ibu2 seperti itu?



Rita Mustikasari (Telapak)
Jalan Pajajaran No 54, Bogor 16143. Indonesia.
tel: +62 (0)251 8393-245
fax: +62 (0)251 8393-246
http://www.telapak.org
ritamustikasari@telapak.org


Kedaulatan Politik. Kemandirian Ekonomi. Kemartabatan Budaya
Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Anonim
admin
18 Mei 2009 11.43 ×

bagiamana lagi, to itu udah kebiasan...emang klo bisa itu karena biasa....cobalah dengan diri kita sendiri biasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan...

salam salut buat teman yang ke sepuluh

Reply
avatar
Moes Jum
admin
22 Mei 2009 15.37 ×

hehehe ... asik tuh bisa ngeliat langsung semua aksi di ciliwung, baik yang mulung maupun yang buangin sampah. Sabar aja bu ... Insya Allah apa yang kita kerjakan ini berkah

Reply
avatar