Beringin dan Nyamplung di Sukaresmi Grande

Pagi itu tiga sepeda motor berjalan lambat menuruni jalan berbatu kerikil di daerah Sukaresmi. Memang bukan kerikil tajam, namun itu adalah kerikil2 yang mudah lepas di sebuah turunan curam. Bukan arena off-road bagi motocross memang, namun cukup membuat ketiga pengendara motor tersebut menjalankan motornya dengan hati2.

Ketiga pengendara adalah para laskar karung KPC yang kali ini menunaikan tugas Sabtu-an di areal perumahan ala river side Sukaresmi Grande. Perumahan itu tampak seperti sebuah lapangan terbuka yang tak terurus dan telah lama ditinggalkan. Menurut warga perkampungan sekitarnya, perumahan itu tertunda pembangunannya karena bermasalah. Hanya tiga buah rumah contoh berbentuk kopel yang dijumpai di tanah kosong tak terurus itu.

Dua dari ketiga laskar karung itu pernah mengunjungi tempat yg sama lebih dari setahun lalu. Ketika itu tak ada jalan menuju dan melintasinya, kecuali jalan setapak di tepian sungai Ciliwung. Tanah datar di sebelah sungai berupa sawah yang asri dengan rimbunan pohon di sekitarnya. Tempat ini dulu memang berupa sawah milik warga perkampungan setempat. Entah apa sebabnya, tempat itu kini telah berubah drastis. Begitu drastisnya perubahan tersebut seperti sebuah karpet besar berwarna hijau yang telah digulung. Yang terlihat kini adalah sebuah ruang terbuka kosong yang tandus dan nyaris tak berpohon.


Sabtu (26/02/2011) pagi itu para laskar karung KPC kembali menyambangi bekas sawah tersebut. Mereka membawa sejumlah bibit pohon untuk ditanam di tanah2 terbuka di sana. “Setelah minggu lalu mengumpulkan bibit, hari ini kita tanam bibit pohon beringin dan nyamplung di tanah terbuka dan tak terurus ini,” ujar salah seorang dari mereka. Maka dua orang laskar pun mulai menggali lubang2 tanam di tepian Ciliwung. Seorang lagi menyiapkan bibit beringin dan nyamplung, kemudian menanamnya pada lubang2 yang telah digali. Panas terik matahari mengiringi kegiatan ini sehingga membuat ketiganya bersimpah peluh.

Tak lama berselang, tiba2 hujan rintik mengguyur areal tersebut. Air hujan yang turun menjadi seperti siraman air kehidupan bagi bibit2 pohon yang ditanam di tepi Ciliwung. Panas terik saat memulai kegiatan berubah jadi teduh dan sejuk. Maka semangat kerja ketiga laskar itu pun semakin terpompa. Mereka begitu giat menggali tanah dan menanam bibit2 pohon. Dalam waktu setengah jam, 15 bibit pohon kehidupan itu akhirnya tertanam seluruhnya di tepian Ciliwung.


“Alhamdulillaah ... upaya ini direstui. Semoga berkah!!” ucap Hari Kikuk, salah seorang dari ketiga laskar KPC itu berharap. Para laskar karung memang berharap kegiatan menanam pohon menjadi kegiatan rutin tambahan selain memulung sampah di Ciliwung. Tentunya semua hal yang dilakukan oleh KPC ditujukan untuk memuliakan sungai Ciliwung di Kota Bogor.

Previous
Next Post »

3 Komentar

Click here for Komentar
anakperi
admin
28 Februari 2011 10.20 ×

haibat poen, aktie tijada henti... smoga kelak djahadi tempat bertedoeh jang njaman, senjaman hatinja bogor.

Reply
avatar
Moes Jum
admin
28 Februari 2011 11.54 ×

@anakperi: maimang soedah djahadi petoendjoek dari itoe karoehoen poen. Kalo soesoer, soeda pasti ada moeloeng bibit poe'oen, dan soeda pasti haroes ditanem poen.

Reply
avatar
28 Februari 2011 14.07 ×

soenggoe teringat akan mimpi laloe akan tjiliwoeng berair beuning,rindang,sejuk. tentunya ada yang menjaga entah kareohoen atau manusia yang tinggal di tepian tjiliwoeng.

Reply
avatar