Pelajaran Memotret

Sebuah kota yang hidup dan selalu bergerak, pada suatu masa ketika dipotret pasti menampakkan kesenjangan. Jangan buru-buru diartikan sebagai ketidakadilan, karena sebagai sebuah potret, ia hanya penggalan keadaan ketika detak waktu dihentikan. Ia tidak bercerita tentang sebab atau keadan-keadaan lain yang dilewati sebelum terpotret.

Coba sampeyan memanjat menara BTS setinggi.... Eh, jangan, ding.. Jangan.., terlalu beresiko. Ini saja, gunakan google-maps atau google-earth, arahkan dan perbesar di daerah pemukiman di Kota Bogor. Nampak rumah-rumah, ada yang besar ada yang kecil, ada yang reyot ada pula yang kokoh.

Potret yang dibuat oleh satelit itu tidak bercerita tentang bagaimana rumah-rumah itu dibangun, siapa yang membangun, atau apa yang dilakukan si pembangun ketika menyiapkan pembangunannya. Dengan potret sampeyan bisa melihat kesenjangannya, tetapi belum tentu bisa melihat keadilannya. Saya pandang adil jika wujud rumah itu dibangun sesuai dengan daya upaya pembangunnya, tanpa merugikan siapa pun atau apa pun di sekitarnya, sebelum maupun setelah rumah itu dibangun.

Setelah puas melihat potret rumah-rumah, coba juga melihat potret Sungai Ciliwung. Apakah sampeyan bisa menemukan perbedaan-perbedaan di sepanjang sungai itu?

Ya, betul sekali. Ada gerombolan pohon-pohon, ada petak-petak sawah dan kebun, ada bangunan besar dan kecil, ada tanah kosong berwarna coklat, ada jalan batu atau beraspal. Tentu ada banyak sekali kesenjangan.

Potret itu sama hakekatnya dengan rekaman indera penglihatan. Mata memotret satu kali, dua kali, terus sampai tak terhingga kali, lalu disimpan di dalam otak. Bedanya, otak mampu merangkai rombongan potret tadi ditambah rekaman indera yang lain, layaknya sebuah perangkat multimedia, bahkan lebih hebat lagi, ia sanggup menerjemahkan semuanya menjadi sebuah kesimpulan.

Sejenak saya akan ajak sampeyan kembali ke soal Ciliwung dan berandai-andai. Jika melihat potret Kali Ciliwung pada suatu waktu di bulan Maret, dalam keadaan air berlimpah melewati bibir sungai dan berwarna coklat tua, nampak membawa batang pohon, sampah, bahkan sofa dan pintu rumah, apa yang bisa segera sampeyan simpulkan?

Ya, mantap! Saya yakin sampeyan bisa menjawabnya dengan cepat.

Tetapi kalaupun ada di antara sampeyan belum bisa menyimpulkan apa-apa, saya lega. Syukurlah, ke’oon’an saya masih ada kawannya, wakakakakaka..... Dan kalaupun saya harus jaga imej, cukuplah dengan berkilah, “Ah, belum cukup kami melihat potret-potret yang lain. Mana bisa menyimpulkan...”.

Kawan saya yang sedari tadi sudah ngintip dari belakang, tiba-tiba nyeletuk, “Halah, kalo cuman ngayal, mah.....,” Komentarnya sengaja digantung sambil bergerak menjauh. Stop di depan pintu, dia lanjutkan, “Ntar Sabtu, kalo mau liat potret Ciliwung yang aseli... catat: DUA BELAS PEBRUARI DUA RIBU SEBELAS, baru tau adil apa enggak....”



Catatan:
Anggaplah tulisan ini sebagai undangan alih-alih tantangan. 
Pada tanggal tersebut, hari Sabtu, berkumpul di Terminal Damri, pukul 06.00. 
Penyusuran akan dimulai dari Taman Wisata Matahari ke arah hilir.  
Bawalah bekal dan perlengkapan masing-masing secukupnya saja.
Previous
Next Post »

3 Komentar

Click here for Komentar
8 Februari 2011 16.55 ×

ayoooo siapa yang mau ikutan nengok mbah tjiliwoeng di tunggu tanggal 12/02/2011 hari sabtu di depan terminal damri baranang siang

Reply
avatar
Moes Jum
admin
8 Februari 2011 17.38 ×

hehehe jadi mau malu ... iya betul itu, kalo mau tau cerita aslinya yaa datang aja bergabung dengan tim susur ciliwung besok Sabtu tgl 12 februari 2011, kumpul di terminal DAMRI jam 06.00

Reply
avatar
13 Februari 2011 06.52 ×

om peri,
tulisan yg bernas tentang dasar pemahaman gis. dikemas dengan bahasa sederhana, like always gaya mu. tengkyu and mantab!

sampeyan sendiri yg bilang, ini negara demokrasi pancasila. bukan negara sosialis ato komunis dimana semuanya harus sama. jadi perbedaan gubug reyot ato rumah kokok, so pasti terjadi lah. pertanyaannya apa yah. hayah jadi bengung sendiri. oh yaya, soal kesenjajngan dan keadilan yg sampeyan tulis. keadilan seperti apa yg terbayang oleh mu, karena kesenjangan sudah pasti terjadi?

Reply
avatar