Mata Air Yang Tak Dimanfaatkan?

Sebaran Mata Air Tjiliwoeng, Susur Lanjutan Tjiliwoeng Agenda Bulanan KPC Bogor. 


Citayam 08/10/2011. Pada kegiatan susur lanjutan KPC Bogor, Agenda bulanan KPC kali ini banyak hal yang ditemukan mulai dari mata air, instalasi pengelolaan limbah tinja buangan limbahnya dibuang ke Tjiliwoeng, buangan limbah pabrik, sampai pemanfaatan air Tjiliwoeng oleh PDAM Tirta Kahuripan Kota Depok. Tak luput pula hiasan indah buangan rumah tangga di bantaran Tjiliwoeng, yang selalu menemani indah dan buruknya susur Tjiliwoeng kali ini.

Susur Tjiliwoeng agenda bulanan KPC Bogor ini adalah kegiatan yang selama ini dilakukan KPC Bogor dan para sahabatnya yaitu KPC Bojong dan KPC Condet. Susur kali ini tak kalah menarik daripada susur-susur sebelumnya, karna susur Tjiliwoeng yang ini berharap bisa bersilahturrahmi dengan kawan2 Citayam.  Pada saat finish susur bulan September lalu ada sekelompok anak muda dan teman2nya yang tertarik akan kegiatan yang aneh ini. Padahal kegiatan mereka tak kalah menarik dari kegiatan KPC.  Justru kegiatan mereka yang memang cenderung aneh.  Mereka berburu biawak dengan sekelompok anjing piaraan-nya untuk di jual minyaknya dan dagingnya mereka makan rame2. Aneeeeeh..... memang isi dunia ini yaa Biawak dimakan, sungai disusuri? Sudah tau sungai di negara ini dijadikan tempat sampah dan biawak hewan melata pemakan bangkai.



Karna kawan2 Citayam masih pada tidur dan hanya sebagian yang bisa kita ( KPC) temui, setelah kita ngobrol sebentar kita pun melanjutkan perjalanan susur Tjiliwoeng. Tak jauh dari tempat kami mulai nyusur kami dikagetkan oleh air terjun limbah buangan.  Air terjun ini baunya ... wiiih sedap betul!!! Anehnya lagi di dekat buangan ini di seberang ada perusahaan kayu dan besi yang juga turut andil membuang limbahnya ke Tjiliwoeng. Di dekat pabrik dan buangan limbah tersebut banyak sekali sebaran mata air yang seolah mencuci pencemaran yang dilakukan oleh perusahaan dan perumahan.

Menjelang siang hari kami melanjutkan perjalanan susur Tjiliwoeng selepas kami beristirahat sejenak menunggu teman kami yang masih tertinggal di belakang.  Kami minum teh anget dan cemilan di Kampung Duren. Sembari ngobrol ngalor-ngidul tak lama teman kami bersama ibu2 yang habis mencuci di Tjiliwoeng, menghampiri kami sembari menunjukan mimik kelelahan.

"Ndan (julukan Kumendan Susur), istirahat dulu yaa!", kata mereka.

"Siap ... kita istirahat dan sekaligus kita akan melanjutkan perjalanan sembari mencari makan siang", jawab Ndan Susur.

Usulan Ndan Susur diamini teman2 susur Tjiliwoeng. Aneh memang ... sembari kita minum teh manis teman2 peserta susur ada yang sesekali ngobrolin masalah air, masalah ibu2 warga yang mencuci di Tjiliwoeng.  Emang ada apa dengan Tjiliwoeng atau air?

"Kenapa ibu mencuci di Tjiliwoeng?" tanya peserta susur dari Jakarta.
"Yaa ... karna sumur kami di kampung kering, Mbak", jawab si ibu.  Ibu itu melanjutkan, "Kalau untuk minum dan memasak memang masih ada.  Tapi kalau untuk mencuci sangat sayang kami menggunakan air sumur.  Air sumur kami gunakan hanya untuk minum dan mandi".


Kenapa sumur ibu itu kering ... kan di sekitar sini banyak mata air? 
Jawabannya ... cari aja sendiri ... hehehe
Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Moes Jum
admin
13 Oktober 2011 10.30 ×

Apa yaa kira2 jawabannya? Saya sendiri apa memang ibu2 itu gemar mencuci di sungai?

Reply
avatar
18 Oktober 2011 16.45 ×

spertinya begitu, si mbah tjiliwoeng masih di perlukan.

Reply
avatar