FISHWAY, ikan jalan-jalan, hingga upacara memanggil ikan

Yogyakarta, Sabtu, 17/12/2011, merupakan hari kedua kami (Rita, Febri, Prigi, Jean, Doni, dan saya) mengikuti Training Hidrologi di Kampus MM Magister Sains Teknik UGM. Seperti yang telah disepakati pada hari sebelumnya, bahasan kami pagi hari ini adalah mengenai Fishway serta penerapannya di Indonesia.

Kuliah-pun dibuka Pak Agus Maryono dengan sedikit pemaparan mengenai pentingnya sumberdaya ikan sebagai penyedia sumber protein hewani bagi masyarakat serta beberapa faktor yang mengancam kelestarian populasi ikan di alam, salah satu-nya diakibatkan oleh keberadaan bangunan melintang sungai.

Banyaknya bangunan melintang sungai, mulai dari bendungan, bendung, cek dam, ground sill, dam konsolidasi, serta sabo dam telah memutus jalur migrasi ikan serta organisme akuatik lainnya. Akibatnya, ikan-ikan yang biasanya bisa dengan bebas berenang kemana-pun mereka inginkan menjadi terkurung dalam suatu batas wilayah sungai tertentu tanpa adanya cara untuk keluar dan membebaskan diri. Kondisi ini secara otomatis menjadi ancaman bagi kelestarian populasinya di alam dikarenakan dalam siklus hidupnya  ikan memerlukan migrasi untuk mencari makan, berkembangbiak, serta mencari perlindungan dan habitat hidup pada kondisi perairan yang lebih baik. Seperti halnya ikan salmon yang hidup di banyak Negara beriklim subtropis, pembuatan bangunan-bangunan tambahan yang selanjutnya diistilahkan dengan “fishway” (tangga ikan) menjadi solusi yang dapat mencegah laju penurunan populasi ikan akibat pengaruh keberadaan bangunan melintang yang tidak ramah lingkungan.

Indonesia yang dikenal sebagai surga bagi keanekaragaman spesies ikan perairan umumnya, termasuk ekosistem perairan sungai, sudah menjadi suatu kewajiban untuk mempercepat penerapan fishway. Menurut pantauan Pak Agus Maryono, Indonesia baru memiliki 4 buah bangunan fishway yang diantaranya terdapat di bangunan Bendung Perjaya Ogan Komering Ulu (Sumsel), Bendung Batang Hari (Sumbar), dan Bendung Wawotobi (Sulsel). Sedangkan bangunan melintang lainnya hanya berfungsi sebagai penyedia air serta penstabil kondisi fisik sungai saja tanpa memperdulikan fungsi ekologis sungai sebagai habitat dari banyak spesies makhluk hidup, khususnya ikan.

Setelah apa yang dipaparkan di atas, lalu yang menjadi pertanyaannya kini adalah “bagaimana dengan bangunan melintang yang sudah ada?”. Menjawab pertanyaan ini, Pak Agus Maryono memberikan beberapa solusi antara lain:
  1. Melengkapi bangunan melintang dengan bangunan fishway
  2. Merenovasi bangunan melintang sehingga memungkinkan terbuka hulu hilir
  3. Membongkar bangunan melintang dengan konstruksi lain yang memungkinkan terjadinya hubungan ekologi-hidraulik hulu-hilir
“Lalu seberapa besar biaya yang diperlukan?”, ahli hidrologi UGM ini-pun selanjutnya menyatakan bahwa untuk membuat sebuah bangunan fishway hanya diperlukan 0,5% dari total biaya pembangunan suatu bangunan melintang sungai. “Mengapa Indonesia tidak menerapkan pada bangunan-bangunan melintang sungai-nya?”, sebenarnya Indonesia telah menerapkannya sejak tahun ‘80-an, namun karena banyaknya masyarakat yang menangkapi ikan saat bermigrasi menggunakan fishway, membuat para pemangku kebijakan memutuskan bahwa masyakat Indonesia belum siap menerima keberadaan teknologi tersebut. Dan sejak saat itu, semua bangunan melintang sungai yang ada Indonesia dibuat tanpa keberadaan fishway, Pak Agus Maryono menjelaskan panjang lebar.

Selain bangunan melintang, bangunan memanjang sungai seperti halnya talud, gorong-gorong, jembatan sempit, pelurusan/sudetan, perombakan material dasar sungai, serta perombakan sempadan sungai juga dinyatakan sebagai bangunan-bangunan lainnya yang ikut mengancam kelestarian populasi ikan di alam. Berbagai dampak mulai dari hilangnya daerah pemijahan ikan hingga perubahan struktur komunitas makroinvertebrata air yang merupakan salah satu sumber makanan ikan, juga menjadi faktor ancaman lain terhadap kelangsungan hidup populasinya di alam. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pak Agus Maryono-pun memberikan solusi mulai dari pembuatan talud ramah lingkungan dimana diantara bangunan beton yang didirikan diberi jarak untuk diselingi pepohonan, misal ceri dan cyperus sp., hingga merenovasi gorong-gorong menjadi lebar serta tercelup ke dalam sungai.

Tidak seluruhnya masuk dalam suasana yang teoritis, kuliah-pun diisi dengan kisah Pak Agus Maryono yang pernah melakukan upacara pemanggilan ikan di Sungai Code, Yogyakarta. Upacara yang diikuti oleh banyak orang ini diawali dengan pembacaan doa yang kemudian dilanjutkan dengan memukul-mukul kerakal kerikil yang sudah tertutupi oleh lumpur sungai menggunakan sapu lidi. Berbagai bumbu masakan mulai dari bawang merah, bawang putih, hingga cabe ditusukkan satu persatu pada sapu lidi lainnya kemudian dicelupkan ke sungai. Sampah-sampah yang ada juga dibersihkan dan terakhir upacara ditutup dengan makan-makan bersama di pinggir sungai. Menurut Pak Agus Maryono, upacara ini terinspirasi dari kebiasaan masyarakat tradisional Jerman untuk memanggil ikan salmon.

Kurang dari pukul 12 siang, kuliah-pun akhirnya selesai. Berbagai informasi mengenai fishway serta penerapannya di Indonesia sudah dipaksa masuk dalam otak kami selama kurang lebih 3 jam dalam ruang perkuliahan. Setidaknya hari ini kami memiliki bekal dan sedikit lebih paham mengenai fishway, tidak seperti hal-nya kondisi semalam dimana dengan candaannya Rita mendefinisikan fishway dengan istilah “ikan jalan-jalan”.

Semoga para pemangku kebijakan akan pengelolaan sungai dapat mempertimbangkan dan segera mengaplikasikan fishway pada banyak bangunan melintang sungai di Indonesia sehingga tidak hanya sekedar tertuang dalam konsep saja. [Ruby Vidia Kusumah - Desember 2011]

Pustaka
Maryono, A. 2008. Rekayasa fishway (tangga ikan). Applied eco-hydraulic. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Picture is downloaded from: http://www.vicfishways.com.au/images/image109.jpg
Previous
Next Post »