Catatanku Sabtu pagi itu… (1)


“Sepertinya kemarin-kemarin kurang kuperhatikan?, atau…, mungkin saja keadaanku pagi hari itu memang sedang peka terhadap sesuatunya yang ada di Ciliwung, terutama mengenai ikan-ikan itu”. Cerita ini merupakan sisi lain dibalik aksi pemulungan sampah Ciliwung Jalak Harupat, Sabtu, 1 September 2012.

Anak-anak beunteur berukuran 1-1,5 cm
Pagi itu, sambil memunguti sampah-sampah plastik yang mengotori sungai, satu persatu kuperhatikan ikan-ikan Ciliwung yang hilir mudik berenang kesana kemari. Di posisi yang lebih dalam (+/- 50 cm), di dasar sungai, tampak beunteur (Puntius binotatus) dewasa beratraksi menunjukkan kebolehannya berenang-renang diantara bebatuan satu ke batuan lainnya. Tak jarang diantara mereka-pun meliuk-liukkan tubuhnya ke samping kanan atau kiri sehingga seringkali terlihat berkilauan saat terkena sinar matahari. Pada posisi lainnya, di bagian lebih atas, di arah permukaan air, gerombolan bungkreung (Poecillia reticulata) berukuran besar dan kecil tampak ramai berenang-renang menahan derasnya arus yang seringkali membuat mereka terbawa ke tepian sungai yang berarus lebih lemah.

Tak lama kuperhatikan, tiba-tiba kusadari sesuatu yang menurutku tak biasa pagi hari itu. “Hei! kok banyak sekali anak-anak ikan bungkreung disini?”, tanyaku dalam hati sambil mengingat-ingat bulan dan musim apa sekarang. “Bukannya kondisi air sedang surut (kemarau)?, kok ikan-ikan malah beranakpinak seperti ini?”, tanyaku lagi sambil berpindah menuju lokasi lainnya ke arah bebatuan sungai yang juga disangkuti sampah-sampah plastik. Meskipun masih penasaran, namun, aku yang saat itu tak mau terlalu ambil pusing, hanya membiarkan kejadian tersebut berlalu tanpa mencoba mencari jawaban logis berdasarkan teori-teori yang ada.

Di balik bebatuan berbagai ukuran, air sungai tampak terbendung membentuk suatu genangan sedalam 5-10 cm. Dengan aliran yang kecil dan lambat, kondisi air di tempat tersebut terlihat lebih jernih dibandingkan lokasi lainnya dalam suatu sistem sungai yang sama. Karena kejernihannya, dasarnya yang berupa lumpur berwarna kuning-pun bahkan terlihat sangat jelas. Saat kuamati lebih jauh, beberapa anak ikan tampak berenang-renang di dasar. Dari karakter tubuh serta tingkah lakunya, dapat segera kupastikan bahwa jenisnya berbeda dibandingkan anak-anak ikan bungkreung yang kulihat sebelumnya.

Warna tubuh yang kekuningan hasil pigmentasi sel warna bernama xanthophore, pergerakan yang lebih lambat dibandingkan anak-anak bungkreung, serta beberapa diantaranya bersembunyi dibawah bebatuan sungai, itulah kira-kira gambaran singkatku terhadap anak-anak ikan tersebut. Dari hasil tangkapanku secara langsung, dapat dipastikan bahwa anak-anak ikan itu merupakan ikan beunteur. Apalagi beberapa spot hitam ciri khas spesies tersebut tampak terlihat di bagian tubuhnya.

Karena jumlahnya terlihat cukup banyak, kejadian ini langsung kuceritakan pada Hari yang memang lokasinya dekat dengan tempatku berada saat itu. Untuk mendapat koleksi anakan beunteur tersebut, aku-pun segera mengajak Hari untuk menangkapnya bersama. Namun, dikarenakan waktu yang terlalu siang, niat itupun akhirnya batal. “Ah besok Minggu (2/9/2012) aja aku ngambil sekitar 50 ekor”, pikirku saat itu. 

Disela-sela pengangkutan karung-karung sampah ke lokasi pengumpulan, aku-pun menceritakan hasil pengamatanku tersebut ke Kang Erwin. “Iya beunteur itu kalau musim panas seperti ini dia memijah, dan kalau sudah musim hujan dia baru ditangkepin”, jawab si Akang yang juga merupakan warga setempat. (bersambung) 

Catatan:
Sundararaj (1981) menyatakan bahwa kebanyakan ikan (teleost) memijah musiman dan hanya sedikit spesies yang memijah secara terus menerus (sepanjang tahun). Beberapa spesies ikan tropis sungai memiliki waktu pemijahan yang pendek di awal musim hujan sedangkan beberapa spesies lainnya memiliki waktu pemijahan yang panjang saat hujan besar (Alkins-Koo, 2000). Berdasarkan penelitian Rahmawati (2006) di Sungai Ciliwung, ikan beunteur (Puntius binotatus) memijah pada akhir bulan Juni sampai dengan akhir bulan Agustus dengan puncak pemijahan terjadi pada akhir bulan Juli. Sedangkan untuk ikan-ikan bungkreung (Poecilia reticulata) pemijahan dapat berlangsung beberapa kali dalam setahun. [Ruby Vidia Kusumah]


PUSTAKA

Alkins-Koo, M. 2000. Reproductive Timing of Fishes in a Tropical  Intermittent Stream. Environmental Biology of Fishes, Volume 57, Number 1 (2000), 49-66.

Rahmawati, I. 2006. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Beunteur (Puntius binotatus C. V. 1842, Famili Cyprinidae) di Bagian Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Jawa Barat. Skripsi. Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Sundararaj, B. I. 1981. Aquaculture development and coordination programme. Reproductive Physiology of Teleost Fishes: a review of present knowledge and needs for future research. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome, 1981.

Previous
Next Post »