Pengelolaan Ciliwung Cermin Pengelolaan Sungai di Indonesia

Walikota Bogor Bima Arya menyerahkan piala bergilir lomba mulung sampah ciliwung ke-6 dan piagam
penghargaan kepada Lurah Tanah Saeral. Foto: Een Irawan Putra
Bogor|Kotahujan.com- Mengalir dari Puncak menuju Jakarta, melewati wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, keberadaan sungai Ciliwung saat ini seolah ada dan tiada. Meskipun di beberapa wilayah masih ada masyarakat yang memanfaatkan air sungai Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi kelestarian Sungai Ciliwung tidak diperhatikan dengan baik. Di sepanjang 117 km Sungai Ciliwung, masih banyak ditemui sampah plastik kresek, bekas makanan dan minuman, kain sisa-sia pabrik garmen, dan styrofoam. Bahkan kasur dan sofa kadang juga ikut mengalir sampai ke laut. Sampah ini yang kemudian menjadi bencana bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung. Menjadi masalah serius di Teluk Jakarta dan sebagian masyarakat di Kepulauan Seribu.

Ernan Rustiadi, Dekan Fakultas Pertanian IPB, yang ditemui di bantaran Sungai Ciliwung pada saat lomba mulung sampah ciluwung sabtu lalu (31/05) mengatakan bahwa Ciliwung adalah cerminan sungai-sungai di Indonesia secara keseluruhan. Hanya saja Ciliwung terlalu dekat dan terlalu terlihat oleh semua pihak yang mengambil keputusan terpenting di negara ini. “Yang terdekat dan terlihat saja oleh pimpinan negara, kementerian dan orang-orang penting di negeri ini tidak bisa diselesaikan apalagi sungai yang jauh yang ada di daerah-daerah. Ciliwung juga mencerminkan betapa kerjasama antar daerah dalam mengelola sungai itu tidak berjalan dengan baik. Kerjasama antara lembaga, antar kementerian berjalan dengan lambat” ujarnya. 

Ernan juga menambahkan bahwa selama ini ada yang salah dalam pandangan dan persepsi masyarakat terhadap Sungai Ciliwung. Sungai dianggap tempat sampah paling besar, cepat dan dekat dengan rumah. “Untuk memperbaiki sungai ciliwung, pertama kita harus mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungainya, kedua mengubah perilakunya”, katanya. Disampaing itu, dia menjelaskan bahwa sungai yang bersih dan baik adalah sungai yang dapat menjalankan fungsinya sebagai bagian dari siklus perputaran air. 

Permasalahan Sungai Ciliwung yang pelik, menggugah kepedulian masyarakat dengan membentuk Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Saat ini sebanyak 21 komunitas telah terbentuk dari wilayah hulu di Puncak hingga hilir (Jakarta). Komunitas ini bergerak dalam pelestarian sungai Ciliwung dan mengembalikan Sungai Ciliwung menjadi sungai yang bersih, sehat, serta ekosistem yang ada bisa terjaga dengan baik. 

Salah satu upaya yang dilakukan KPC yang ada di Kota Bogor dalam menjaga kebersihan Sungai Ciliwung adalah menyelenggarakan “Lomba Mulung Sampah Ciliwung” setiap tahun. Tahun ini merupakan tahun ke-6 pelaksanaan lomba dan tahun ke-4 sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Bogor. Lomba tersebut diselenggarakan bukan semata-mata mengangkut sampah dari Sungai Ciliwung, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan Sungai Ciliwung. Selain lomba tahunan, KPC Bogor juga melakukan kegiatan mulung sampah di Ciliwung setiap Hari Sabtu pagi. KPC Bogor berharap agar melalui kegiatan-kegiatan tersebut, semakin banyak masyarakat yang sadar dan mau terlibat dalam pelestarian Sungai Ciliwung. 

Menurut Een Irawan Putra, Kordinator KPC Bogor, okupasi bantaran sungai untuk pemukiman juga menjadi permasalahan yang harus diperhatikan dan ditangani dengan baik. Sungai Ciliwung yang memiliki kedalaman antara tiga sampai dua puluh meter ini seharusnya memiliki sempadan sungai yang jauh dari pemukiman. Dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai tercantum bahwa sempadan sungai berfungsi sebagai ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan, agar fungsi sungai dan kegiatan manusia tidak saling terganggu. Ciliwung termasuk dalam kategori sungai yang harus memiliki sempadan dengan lebar 15 meter dari sungai di wilayah perkotaan, dan 50 meter dari sungai di luar perkotaan. 

“Perlu dilakukan penataan kawasan sepadan sungai dan menerapkan aturan yang ada di Undang-Undang tentang sumber daya air dan peraturan pemerintah tentang sungai”, ujar Een. 

Memulai dari Kota Bogor 

Hari ini pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Bogor dalam rangka puncak perayaan Hari Jadi Bogor yang ke-532 tahun 2014, Walikota Bogor Bima Arya dan Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman memberikan piala bergilir lomba mulung sampah Ciliwung. Lurah Tanah Sareal Dandi Mulyana yang menjuarai lomba mulung sampah yang ke-6 menerima langsung piala dan piagam dari Walikota Bogor. 

Bima Arya mengaku bangga melihat semangat semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan lomba yang digagas oleh Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC Bogor) tersebut. Menurutnya, permasalahan Sungai Ciliwung harus diselesaikan bersama-sama, bukan hanya oleh pemerintah kota. Bima menantang untuk bersama-sama membuat Ciliwung menjadi bersih dalam beberapa tahun mendatang. Ia optimis hal tersebut dapat diwujudkan jika terdapat kerja sama yang baik antara semua pihak. melihat kegiatan lomba yang melibatkan ribuan warga tersebut sebagai kegiatan yang konkret dan bermanfaat. 

“Saya ingin bersama-sama komunitas dan warga mengeroyok DAS Ciliwung ini, tidak saja untuk meringankan beban warga jakarta, tapi juga untuk keselamatan warga yang tinggal di bantaran sungai. Ini juga untuk kebersihan dan keindahan kota”, tutur Bima. Kesungguhan Pemerintah Kota Bogor dalam bekerja sama mewujudkan lomba mulung tahun ini ditunjukkan dengan kehadiran Walikota Bogor, Wakil Walikota, sekretaris daerah, kepala dinas, dan perangkat kerja lainnya pada saat pelaksanaan lomba. Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman bergabung langsung dengan ratusan warga yang turun ke Sungai Ciliwung di Kelurahan Tanah Sareal. 

Penulis: Indri Guli 
Editor: Een Irawan Putra
Previous
Next Post »