Oleh-oleh Dari Situ Daun (Part 1)

Fieldtrip MSP
"Gw ada usul gimana kalo kita ikut sampling bioindikator (Fieldtrip proper) Sabtu, 18 April di daerah Situ Daun" isi penggalan email dari Aan. Tim Riset Tjiliwoeng dapat tawaran "Latihan" dari asisten matakuliah produktivitas perairan (proper) itu. Mengingat pengamatan di Pulo geulis Minggu lalu (12/04), tawaran tersebut di sambut gembira. Selain belajar, juga tersirat harapan mendapatkan "massa" untuk pengamatan Minggu besok (19/04).




Pasalnya, Sabtu-18 April 2009, mahasiswa dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (MSP FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan praktek lapang (fieldtrip) tentang produktivitas perairan mengalir. Mahasiswa MSP angkatan 43, menjadi peserta dalam "hajatan tahunan" yang diadakan setiap akhir matakuliah proper ini. Seperti biasanya, mereka didampingi oleh Dosen, Laboran, Teknisi dan Asisten. Kami (Ruby, Romi, dan Annas) dapat mengikuti acara ini dikarenakan kami alumni MSP'39 ditambah lagi asisten kali ini adalah Aan, teman seangkatan kita. Pagi itu, terasa reunian bagi kami ber-empat. Melihat dan bergabung bersama adik-adik kelas, mengingatkan kami pada fieldtrip di Nanggung beberapa tahun yang lalu.

Lokasi fieldtrip, Sungai Cihideung, di Desa Situ Daun Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Desa yang terletak di kaki Gunung Salak, kami perkirakan jaraknya 7 Km dari Kampus IPB Darmaga. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan menggunakan Angkot.

Sungai yang masuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane ini, alirannya melewati Jembatan Merdeka, Belakang Kampus IPB Darmaga, dan berakhir di Kota Tanggerang. Batu-batu besar yang terdapat di badan sungai, merupakan ciri khas daerah hulu. Kiri-kanan sungai merupakan persawahan dan juga ditemukan kolam-kolam budidaya ikan milik warga sekitar. Jenis ikan-ikan yang dipelihara warga adalah Ikan Mas (Cyprinus carpio), Ikan Gurame (Osphronemos gouramy), dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Pemandangan seperti di Pulo Geulis juga kami temukan di sini, yaitu aktifitas penduduk seperti mandi, mencuci pakaian, dan buang air (MCK).

Sepertinya, warga masih memandang sungai sebagai "tempat sampah" dan "Kamar mandi" yang murah tanpa ada beban biaya yang harus ditanggung. Dengan banyaknya orang (Akademisi, peneliti, masyrakat umum, dan pemerintah) diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Untuk saat ini mungkin, masih jauh dari harapan. Namun dengan kegiatan ini, minimal menimbulkan rasa malu. Malu jika mengotori sungai!!!. Karena sungai adalah sumber kehidupan bukan tempat pembuangan.



(Tim Riset Tjiliwoeng)
Previous
Next Post »