Pulo Tjantiek, Wadjahmoe Kinie

Minggu pagi, 5 April 2009, aku bersama teman-teman yang tergabung dalam tim observasi Ciliwung mengunjungi Pulo Geulis. Hari ini kami akan menyurvei sejumlah titik yang akan dijadikan lokasi pengamatan kualitas air dan menentukan kebutuhan observasi lainnya. Selagi teman-teman asyik survei menyusur sungai mengelilingi pulau, aku memisahkan diri untuk sekedar ngobrol dengan ketua RT setempat, sekaligus memberitahukan secara lisan mengenai rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh tim observasi.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi, anak-anak berkejaran, bapak-bapak duduk santai menikmati libur. Diantara lorong jalan yang dihiasi jemuran pakaian, aku seperti ingin mencari sesuatu yang penting, sesuatu yang perlu digali dari sebuah pulau padat permukiman yang menyisakan sejarah ini.

Tidak lama, akhirnya aku menemukan rumah Pak Tata Sumiarta, ketua RT 5 Pulo Geulis, sebuah pulau yang secara admisnistrasi berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis terdiri dari lima RT dalam satu RW, entah RW berapa aku lupa menanyakannya,.

Setelah mengungkapkan maksud kedatangan, Pak Tata mulai sedikit bercerita mengenai Ciliwung. Meskipun bukan pelaku sejarah dan tetua, tetapi rasanya apa yang diceritakan dapat menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah yang lebih mendalam nantinya.

Dulunya hutan


Beragam cerita masa lalu Pulo Geulis sedikit tersingkap, meski tidak detail, aku merasa ada harapan bahwa Pulo Geulis memang masih memiliki cerita unik dan seru. Cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masa lalu.

Pulo Geulis merupakan pulau yang unik di Kota Bogor, lokasinya dekat dengan Pasar Bogor. Daratan ini berbentuk lonjong seperti sebuah delta yang dikelilingi aliran Ciliwung. Secara persis aku tidak tahu luasannya, mungkin sekitar 5 ha.

Dikisahkan oleh Pak Tata, saat penjajahan Belanda, nenek moyang penduduk Pulo Geulis bermukim di sebuah kawasan yang saat ini digunakan sebagai Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Menurut Pak Tata, warga yang bermukim di sana dipindahkan, mungkin tepatnya dipaksa untuk pindah, dan menempati sebuah delta yang rimbun penuh pepohonan seperti hutan. Inilah kondisi awal Pulo Geulis, saat pertama kali dibuka untuk bermukim warga setempat dari etnis Sunda.

Pulau ini tidak dikelilingi lautan, tetapi aliran sungai. Di dalamnya tumbuh pepohonan besar laksana rimba perawan, dengan gemericik air bening nan segar di sela-sela batu. Dahulu, aliran sungai yang mengelilingi Pulo Geulis tidak selebar saat ini yang telah mengalami erosi badan sungai. Dan tentu saja airnya masih jernih dan sehat untuk diminum langsung. Karena keindahannya pulau tersebut dinamakan Pulo Geulis yang dalam bahasa Indonesia artinya Pulau Cantik.

Menurut kisah lainnya, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, terjadi sebuah pertempuran di sebuah wilayah yang disebut Panaragan. Mayat-mayat yang bergelimpangan kemudian dibuang ke pulau tersebut. Tidak hanya itu, pulau tersebut pada suatu waktu kedatangan perempuan cantik yang tidak diketahui identitasnya dan dari daerah mana asalnya. Apakah mereka dari luar Sunda ? apakah mereka dipekerjakan oleh Belanda? Entahlah, Pak Tata pun mengaku tidak mengetahuinya.

Bahwa Pulo Geulis terkait erat dengan sejarah dan budaya masa lalu, itu pernyataan yang tidak terbantahkan. Bukti sejarah yang dapat ditemui di pulau itu adalah sebuah bangunan seperti vihara yang dikeramatkan. Di dalam bangunan tersebut terdapat makam orang pribumi dan Tiong Hoa. Konon, vihara ini adalah salah satu bangunan peribadatan tertua se-Indonesia. Beberapa makam yang ada di lokasi tersebut misalnya Mbah Mangunjaya, Mbah Gebug, Mbah Imam, dan Mbah Buyut Sampurna. Bahkan konon ceritanya lokasi tersebut juga pernah menjadi petilasan Prabu Siliwangi.

Tidak hanya vihara, sekitar tiga bulan lalu, di wilayah RT 5, saat seorang warga sedang menggali tanah, ditemukan amunisi peluru yang kemungkinan dikubur pada jaman Belanda. Mengenai penemuan peluru ini sudah di laporkan ke pihak berwajib.

Hubungan sosial antara pribumi dari etnis Sunda dan Tiong Hoa berjalan dengan rukun, bahkan sampai saat ini. Pak Tata menjelaskan bahwa, saat peringatan hari besar kegamaan, masing-masing komunitas memberikan ucapan selamat, dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sambil bersalaman. Sebuah budaya yang banyak ditinggalkan di tempat lain. Meskipun belum dipastikan berapa komposisinya , namun pak Tata memperkirakan sekitar sepuluh persen warga Pulo Geulis Tiong Hoa. Namun akhir-akhir ni ada juga pendatang yang ngontrak atau tinggal sementara di Pulo Geulis, misalnya dari Padang.

Hmmm..aku semakin penasaran menggali ceita yang lebih detail.

Semakin padat


Permukiman sudah sangat padat. Tampaknya sudah tidak mungkin menemukan secuil tanah kosong untuk membangun rumah baru, apalagi untuk bermain bola voli. Warga mesti membangun ke atas untuk urusan menambah rumah. Setiap waktu, masyarakat terus bertambah, ketersediaan ruang semakin terbatas. Sebagai gambaran di RT 5 ada sekitar 145 KK, kalau rata-rata satu keluarga ada 4 orang maka 580 jiwa. Memang belum dipastikan jumlah total warga di Pulo Geulis, tetapi jika kita kalikan dengan 5 RT, maka perkiraan jumlah jiwa di pulau tersebut sekitar 2900 jiwa.

Selain permukiman yang padat, warga yang kebanyakan masih menggunakan air Ciliwung untuk mandi dan mencucui dihantui berbagai permasalahan kesehatan lingkungan. Sebut saja kulitas air yang semakian menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga dan sampah dari hulu. Apa yang bisa kita lakukan ?

Parasmu kian redup menantang jaman
Kerut wajahmu kian nyata digerus arus Ciliwung

Tubuhmu semakin renta menopang beban
Pulau Cantik nasibmu kini, ....
(ditulis oleh M. Muslich)
Previous
Next Post »

1 Komentar:

Click here for Komentar
Anonim
admin
8 April 2009 14.49 ×

Untung aja dulunya pulau delta nan elok ini berasal tanah dan batu. Gak bayangin kalo asalnya dari sampah plastik kaya sekarang. Mana mungkin ada hutan diatasnya. Dulu ya, ...

Congrats bro Anonim you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar