Bogor tak lagi "BERIMAN" (Bersih, Indah dan Nyaman)

Berbondong masyarakat berasal dari empat kampung yaitu Kampung Munjul, Mekarwangi dan Lalamping, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal Bogor mendemo Kelurahan Kayumanis. Mereka ingin bertemu dengan beberapa pejabat kelurahan tersebut untuk berdialog, tetapi tidak menemukan pejabat yang mereka cari, sama sedianya setelah mereka berdemo di kantor Balaikota Bogor pada Senin 16/ Juni 2010.

Setelah beberapa waktu sebelumnya mendemo Balaikota Bogor pada pukul 10:00 WIb ratusan warga yang menggunakan beberapa kendaraan pick-up dan sepeda motor kemarin hingga pukul 12:00 setelah kecewa tidak dapat berdialog dengan sang Walikotanya. Kedatangan mereka ingin meminta pembantalan pembangunan TPS tersebut dengan membawa segel, yang sedianya diharapkan ditandatangani oleh walikota.Masyarakat yang rata-rata petani pada kawasan empat kampung yang akan dijadikan Tempat Pembuangan Sampah Sementara ini akan mengancaman kelangsungan hidup masyarakat. Ketika mendatangi kantor kelurahan Kayumanis untuk mendemo dan menjatuhkan Lurah, yang bersangkutan juga sedang tidak berada di kantornya.

Beberapa ibu resah yang ditemui disela-sela demonstrasi tuntutan dialog masyarakat dengan pejabat kelurahan. Seperti diungkap Tini dari Parakan Jaya yang merasah resah rencana pengelolalaan TPS tersebut akan dibangun didaerah lahan pemukiman dan pertanian warga dan merupakan kawasan cekungan sungai. Kehidupan masyarakat yang sebagian besar daerah tersebut bertani sayuran seperti bayam, pohon jati, hingga singkong merasa cemas. Masyarkat khawatir limbah tumpukan sampah akan mencemari mata air sungai ciangke dan sungai yang air nya masih mereka mamfaatkan untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sungai ciangke tersebut mengalir hingga perumahan mewah Billabong.

Keresahan juga dipicu oleh permainan beberapa biong tanah yang mengindikasikan pada penggelapan dana ganti rugi masyakat akan rencana pembangunan TPS tersebut. Besaran dana proyek pembangunan TPS tersebut sebesar 32 M. Menurut Kubil yang merupakan salah satu koordinator lapangan kegiatan tersebut, masyarakat telah dibohongi oleh biong atau cukong penjual tanah-tanah mereka. Beberapa lahan warga telah dijual, tetapi masyarakat tidak merasa diajak untuk duduk bersama dalam merembukan dalam proses projek pembangunan TPS ini. Mereka dinyatakan telah bersedia menjual lahan-lahan mereka. Pihak pejabat Kelurahan Kayumanis diminta untuk menjelaskan kepada masyarakat saat sehubungan tandatangan persetujuan pembangunan TPS tersebut yang dipalsu melalui makelaar-makelaar tanah untuk proyek TPS Kota Bogor tersebut.

Dengan bukti-bukti yang berada ditangan masyarakat, Dinas Tata Ruang Kota Bogor dan Bapeda Bogor, Pejabat Kecamatan Tanah Sareal dan Pemerintahan Kelurahan-kelurahan yang berada dikawasan rencana lokasi TPS tersebut hingga makelar tanah yang bermain dicurigai menjadi pelaku dibalik semua ini.

Kedepan TPA Galuga tidak diperpanjang kembali, kota Bogor harus mencari tempat pembuangan sampah kotanya yang berbau kolusi dan manipulatif dimasyarakat dan birokrat tersebut. TPA Galuga yang selama ini menjadi tempat pembuangan sampah Kota Bogor, dalam pengeloaannya telah menimbulkan korban tewas akibat beberapa saat yang lalu. Meskipun pernah Perencanaan Pembangunan kota yang akan membangun TPS yang rencananya 13 Hektar tersebut menggunakan badan sungai dan kawasan pemukiman tersebut telah menyalahi tata raung, karena tidak sesuai dengan prinsip keberimbangan.
Setelah gagal memperoleh Piala Adipura 5 Juli 2010 kemarin, dengan julukan yang pernah mengharumkan julukan "Bogor Kota Beriman" atau julukan Bogor Kota "Bersih, Indah dan Nyaman" semakin pudar saja nampaknya. Kota Bogor semakin dimusuhi masyarkatnya. Hal ini bertambah pilu mengingat kejadian ini didalam proses perayaan Hari Jadi Bogor yang ke 528 yang masih dipenuhi kegiatan Perayaan dibeberapa peringatan HJB di beberapa pusat Kota. (dari www.kotahujan.com)
Previous
Next Post »