Utak-utek di Balik Batu





berpikir mikro untuk mencapai tujuan makro

Ada dua hal yg membuatku terkesan. Pertama lomba ngumpulin biota air. Aku selalu kagum sama orang yg aneh, nyeleneh, nggak biasa. Yg kemudian berusaha menularkan keanehannya ke orang lain. Kalau lombanya menghitung berapa orang tukang pasir dan tukang batu yg ada di sungai, gampang khan. Atau diminta mengumpulkan sampah plastik, jelas banget barangnya banyak kelihatan. Ini disuruh ngumpulin biota air yg jenisnya saja tidak pernah kebayang. Kalau dibilang gampang, bisa juga sih. Kumpulkan saja tuh ikan serebu sebanyak-banyaknya. Tapi khan bosan juga ngejar ikan segede-gede batang korek api diantara terik matahari siang Ciliwung.

Ulang tahun KPC kali ini berbeda kata seorang teman. Lebih terasa di hati karena dirayakan sederhana diantara KPCerr saja. Sebuah tumpeng dan rangkaian kegiatan dari pagi telah bersama dilakukan. Mulai mulung sampah, lomba ngumpulin biota air, refleksi bersama kegiatan dua tahun ini, makan tumpeng, penanaman pohon sepanjang pinggiran sungai dan acara bebas (mancing, nongkrong, ngobrol, terserah wae lah).

Ada dua hal yg membuatku terkesan. Pertama lomba ngumpulin biota air. Aku selalu kagum sama orang yg aneh, nyeleneh, nggak biasa. Yg kemudian berusaha menularkan keanehannya ke orang lain. Kalau lombanya menghitung berapa orang tukang pasir dan tukang batu yg ada di sungai, gampang khan. Atau diminta mengumpulkan sampah plastik, jelas banget barangnya banyak kelihatan. Ini disuruh ngumpulin biota air yg jenisnya saja tidak pernah kebayang. Kalau dibilang gampang, bisa juga sih. Kumpulkan saja tuh ikan serebu sebanyak-banyaknya. Tapi khan bosan juga ngejar ikan segede-gede batang korek api diantara terik matahari siang Ciliwung.
Bayangkan saja, peserta disediakan plastik es mambo. Perintahnya, kumpulkan berbagai binatang air yg ditemukan di sungai. Setiap spesies baru yg bisa dikumpulkan, akan dikali 5. Sedangkan setiap spesies yg mampu dikumpulkan, akan dikalikan 2.
Ibu Indri, guru SD Polisi, menemukan jentik-jentik menempel di bebatuan di pinggir sungai. Sekalian saja tuh batu kuangkat. Inget juga Om Prigi pernah memperagakan keahliannya mengidentifikasi berbagai indikator air untuk melihat kelas kualitas sungai. Benar saja, ada lebih dari 10 binatang menempel di batu. Nih pake styrofoam untuk nyendokin masukin ke plastiknya, lanjut tuh ibu guru. Seperti seorang peneliti ahli, kami pun khusuk meneliti batu, membalikkannya, mengamati aliran air, sampe pegel nih mata.

Kupandangi hasil kumpulan binatang ku. Plastik bening membantu ku melihat setidaknya ada 10 jenis binatang berbeda dalam plastik ukuran 5 x 10 cm. Ada sejenis cacing yg berjalan seperti ulet bule, memanjangkan badannya kemudian mengkerut seperti bola. Ada keong-keong siput kecil yg badannya terlihat transparan saat plastikku kuangkat melawan matahari. Ada binatang merah berbentuk bulat dengan ekor atau kaki menonjol, berukuran kurang dari 5 mm. Melihat binatang mikro memberi ku pengalaman tersendiri.

Hal lain, Fiona dan Cameroon datang ikutan kegiatan KPC. Mereka datang siang hari. Sempat nanam pohon dan ngobrol tentang intake PDAM yg bisa kita lihat beberapa meter dari tempat kita ngumpul, tentang penambangan pasir, tentang mancing, tentang bibit tanaman dan penghijauan pinggiran sungai, dst. Mereka sendiri terkesan dengan bagaimana KPC terbentuk dan bekerja mencapai mimpi besarnya. Memang tidak seheroik berbagai projek IWRM (integrated water resource management) yg sering digembor-gemborkan di media. Wong ini cuman sekumpulan orang iseng kata salah seorang anggota KPCerr merendah. Kita belajar bagaimana menjadi sebuah tim solid dan mengintegrasikan berbagai kepentingan dan minat menjadi sesuatu yg fun. Entah sampai kapan bertahan solid, mungkin kalau kelak membesar akan beda lagi juga ceritanya.
Previous
Next Post »