Kembali ke LATIN



Sabtu pagi ini mulung bibit spesial. Lama banget gak ikutan mulung bibit ciliwung. Terakhir ikutan mulung bibit saat nursery masih ngejogrog di PKM Lawalata. Ada wawancara untuk UQISA Queensland waktu itu.


Acara dimulai dengan sapa dan senda-gurau. Menyapa kawan-kawan yg rasanya lama tak bersua padahal baru jalan bareng minggu lalu. Ada Een, Muslich, Pak Aji Saburo, Gonjes, Asun yg tadi malam nge-twit dari FWI, Oiek, Hari, Rubi. Aneh memang dalam suasana berbeda bisa memberi rasa hati berbeda. Ada Mas Bowie yg lagi dikerubutin dengan pertanyaan-pertanyaan dan sapaan yg juga biasa-biasa aja tapi mampu membuat semua orang diam saling mendengarkan. Semua orang berbicara. Tidak menjadi penting apa pertanyaan yg terasa hanya rasa nyaman berkawan. Sebuah rasa yg terkoyak karena lama tak disapa.

Kami berjalan menuju ke rumah mungil milik Mas Dony yg menghadap perkebunan murbey pakan ulat sutera milik Litbang Kehutanan. Tim terbagi dua dengan mudah, sesuai kekuatan diri dan interest peserta mulung. Tidak ada diskusi panjang atau eyel-eyelan. Begitu saja membagi. Seperti dahulu kala. Tidak ada yg perlu diperebutkan. Semua orang saling belajar.

Yang mana sih bibit yg harus di pulung? Beringin dan nyamplung, jawab seorang kawan. Kayak apa sih pohonnya. Tuh nempel di tembok atau nyempil di batu-batu. Pada sisiran pertama tidak kami temukan satu pun bibit yg dimaksud. Mendekati hutan bambu, kami segera melihat serumpun bibit nyamplung. Dan banyak rumpun lainnya di sebelahnya. Dan banyak lagi di bagian atasnya. Masing-masing dari 5 orang pemulung bibit, bisa ngumpulin sekitar 20 bibit. Kami membawanya ke Pendopo Latin untuk perlakuan berikutnya. Pak Aji memberi petunjuk untuk memotong sebagian daun untuk mengurangi penguapan. Kemudian merendamnya dengan rokan (bahan kimia) agar bibit menjadi kuat.

Rombongan pembawa tanah datang kemudian dengan berkarung-karung tanah merah. Kami menyambutnya dan segera memasukkan tanah ke dalam polibag, menancapkan bibit dan menyusun polibag. Ketika kami harus memindahkan puluhan bibit yg sudah ditanam di dalam polibag, terasa sangat mudah. Seseorang tinggal berteriak meminta kami agar membentuk barisan sehingga bisa estafet memindahkan tuh bibit. Ringan dan menyenangkan. Harusnya seperti inilah pengorganisasian diri itu terjadinya. Tujuan penyelamatan lingkungan atau apapun itu, cincay lah kalau pertemanan itu terjalin.

Kenapa pula harus dibuat susah pak e dan bu ne? Yg harus dilakukan hanyalah meminta dan bicara terbuka. Seperti yg biasa kami lakukan sejak dulu. Mungkin ini pula hikmahnya. Kita musti kembali banyak ngobrol dan bercanda agar rasa perkawanan itu tetap kuat terjalin.

Teriakan ajakan makan pun terdengar. Mas Bowie dan Pak Aji sudah menyiapkan racikan ajibnya, semur jengkol cabe merah dengan pete sambal hijau, ikan asin, tempe dan tahu goreng. Mas, mana kerupuknya neh. Hehe … masih protes aja. Dan yg dilakukan orang tua itu yah seperti itu. Menyediakan tempat untuk menumbuhkan bibit, teras batu untuk ngobrol, dan makan siang yg muantap tenan.

Apa lagi yg dicari kawan. Mari kembali ke fitrah, membangun rumah tumbuh yg nyaman buat siapa saja untuk berkembang menempa diri. Sampai suatu hari kita menjadi tua. Dan bisa duduk manis melihat bibit muda tumbuh lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Tidak perlu risau dengan kiasan saling menjagal. Seleksi alam akan terjadi sendirinya. Dan dia yg berhati bersih yg kelak akan menang dalam pergulatan hidup dan punya banyak kawan.

Ah ini khan hanya soal mulung bibit ciliwung di suatu pagi yg indah di Bogor. Hehe…
Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Moes Jum
admin
6 Maret 2012 17.24 ×

sebuah reportase kegiatan yg mantep tenan. Semantep rasanya saat ikutan mulung bibit di sekitar Pendopo Latin. Terima kasih Itok, terima kasih Mas Bowie, terima kasih Kumendan Saburo, dan tentu saja terima kasih buat teman2 para laskar karung KPC Bogor.

Oya, aku sempat menghitung perolehan bibit kita kemarin itu. Ternyata hasilnya kita telah mengumpulkan 110 polibag bibit. TOOOP!!!

Reply
avatar
7 Maret 2012 17.22 ×

ya udah bener banget tuh. menciptakan situasi kondusif agar orang ber-voluntir dengan suka cita.

menulis tanpa beban terasa ringan. sukurlah kalau hasilnya berguna untuk banyak orang.

Reply
avatar