Nanam Pohon KPC di Cilebut


Menanam bibit Nyamplung dan Beringin KPC di Jembatan Ciliwung Cilebut. Selain mendapatkan hasil yaitu bibit yg sudah ditanam, ternyata juga bisa mendapat kawan baru dan persoalan Ciliwung
Menunggu 15 menit di sebuah swalayan mini yg persis menempel dengan Stasiun Cilebut. Muslih bilang sedang sms-an sama Een, segera menuju ke lokasi. Andi bilang sedang di jalan. Menunggu sambil menikmati pemandangan pagi di depan stasiun. Setiap orang sepertinya bergegas, menuju loket, atau segera ke peron, menanti kereta KRL tiba. Rata-rata sih pekerja kantoran, lihat dari tampilannya. Tukang ojek mangkal berjajar di depan stasiun, menanti penumpang.

Seorang tukang tahu sumedang ngobrol sama tukang ojek.
• Tukang tahu: Baru balik mudik di Sukabumi. Ngurusin sawah yg saat ini sedang kekeringan. Air susah. Padahal ini sudah masuk musim tanam.
• Tukang ojek nyeletuk: ambil aja nih air dari Ciliwung. Banyak!





Galih, mahasiswa Universitas Pakuan nongol. Muslih dengan anak laki-lakinya, Faiz. Mereka berseragam baju koko putih. Hari ini kekahan putranya yg baru lahiran bulan lalu. Dia mengundang teman-teman KPC untuk pesta kambing setelah nanam nanti. Jadi Muslih gak bisa ikutan nanam bibit pagi ini.

Tapi kemarin dia sudah survey lokasi penanaman, woro-woro di medsos. Dia kembali memberi instruksi, ngasih tunjuk usulan lokasi penanaman, yaitu disekitar Jembatan Cilebut, Perumahan Bumi Pertiwi 1. Apakah kita harus minta ijin untuk menanami pohon di bantaran sungai? Wah bisa adu argumen sama HO alm, kata Muslih. Bantaran sungai kan milik publik. Menjadi tanggung-jawab semua dari kita untuk menjaganya. Kalau mau nanam aja, harus pake prosedural perijinan, yah repotlah.
Begitulah di KPC. Semua orang bekerja sukarela, semampunya. Seseorang yg lain akan melanjutkan. Tapi hebatnya, yah kok ada aja kegiatan yg terjadi yah. Prinsip-prinsip komunitas yg coba diterapkan dalam penyelamatan barang publik (public goods) Sungai Ciliwung.

Een sudah menunggu di swalayan yg namanya sama dengan tempat yg aku nongkrong tadi. Letaknya beberapa meter dari stasiun, ke arah jalan ke komplek Cimanggis. Ooo banyak sekali swalayan merk ini menjamur di setiap sudut.

Hari datang dengan Motor Kaisar BNI Go Green. Muatannya lengkap. Ada Yusup, Andi, Pak Rahmat dan Pak Ntis. Di bagian belakang tersusun rapi bibit beringin dan nyamplung yg sudah kami tanam lebih setahun yg lalu. Bibit setinggi rata-rata 60 cm. Beringin (Ficus benjamina) dan Nyamplung (Calophyllum sp) adalah jenis bibit yg KPC kumpulkan di Kebun Bibit kami di Darmaga. Informasi mengenai Nyamplung bisa didapat mudah dari Google. Ini salah satunya: http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/08/mengenal-pohon-nyamplung-calophyllum-sp.html



Memang kalau nanam pinggir kali, jangan kayu yg bernilai ekonomi tinggi. Terutama jika tujuannya untuk penghijauan. Tanamlah jenis bibit yg tahan dengan lingkungan pinggiran sungai. Kalau ditanami tanaman berkayu, bisa-bisa bibitnya dicabutin orang. Kalau malah dipelihara sih, ok juga tuh.

Ada sekitar 50 bibit yg berhasil kami tanam. Dua buah linggis, satu pacul dan beberapa alat berkebun, menjadi alat bantu tanam. Tepat di ujung jembatan, ada pangkalan ojeg. Lima orang bapak-bapak duduk-duduk sambil menikmati kopi. Ada 2 motor parkir. Tentunya itu milik tukang ojeg yg sedang mangkal itu.


Berikut ungkapan beberapa warga yg tinggal di perumahan itu, yg sedang menikmati segelas kopinya. Tidak ada satu pun warga yg tergerak ikutan kegiatan menanam. Mereka hanya mengamati dari jauh.

• Tanemnya bibit jati. Atau jeunjing lah. Dimana saya bisa beli bibit Jeunjing. Berapa harganya.
• Tuh di sebelah sana ada longsor, sambil menunjuk tanpa beranjak sedikitpun dari tempat duduknya yg nyaman di pangkalan ojeg.
• 12 meter pinggiran sungai adalah milik Pengairan. Jadi mereka yg harusnya tanam pohon.
• Itu tuh Pak RT nya harusnya ngegerakin warga agar bersihkan sampah di sungai.
• Kami ini harus membayar satu juta ke developer untuk setiap lahan taman yg berada di depan rumah kami, yg juga menjadi bantaran sungai.
• Proyek penghijauan kan proyek gede, banyak duitnya.
• Yg buang sampah tuh orang yg naik motor. Mereka melempar sampahnya dari jembatan.
• Kemarin ada mobil tinja buang muatan cairnya. Katanya sih sedang nyuci truk. Kalau saya yg liat, saya sih pasti tegur tuh, ujar seorang tukang ojeg.





Saya tercenung dengan obrolan pagi ini. Rakyat punya keinginan untuk maju, untuk bekerja, untuk berusaha meningkatkan ekonomi. Bahkan mengembangkan skema hutan rakyat di daerah perkotaan, sangat mungkin terjadi. Orang mau kok menanam jati dan jeunjing. Membayar dan menginfestasikan uangnya. Itu kan inisiatif mulia sekali. Di satu sisi merupakan kegiatan konservasi, di sisi lain menambah pendapatan.

Mudah sekali untuk mengalihkan tanggung-jawab ke pihak lain, baik menunjuk ke lembaga pemerintah atau komunitas dimana dia tinggal. Kehilangan kesadaran diri bahwa dia juga adalah pemilik sungai dan punya hak sekaligus kewajiban untuk menjaganya. Kemana kesadaran komunal itu hilang?
Punya dugaan dan rumor yg tidak segera diklarifikasi. Konsumsi menonton tv dan singgungan dengan berbagai media cetak yg kemudian dijadikan sumber berita utama. Tanpa ada kesempatan untuk mencross-cek kebenarannya. Atau terlibat langsung agar ikut serta menjadi pembuat berita. Dan bukan hanya pasif menjadi konsumen berita.

Punya potensi besar menjadi penjaga sungai di tempat dia tinggal. Beberapa bahkan sudah menunjukkan keinginannya. Tinggal siapa yg akan mengempower masyarakat? Menjadikan semua potensi itu terjadi? LSM? KPC? Lho KPC kan anda juga para warga Bogor, utamanya yg sudah pernah ikutan mulung KPC dan ngerasain joroknya Kali Ciliwung.

Untuk beberapa teman KPC kami yg tinggal di Cilebut dan sekitarnya ...
Selamat pagi Ciliwung.

Previous
Next Post »