Mulung Sampah di Ciliwung itu Menyenangkan dan Perlu

(Penulis: Anggit Saranta)



Sejak bergulir perdana pada 15 Maret 2009, aksi mulung sampah di sungai Ciliwung Kota Bogor terus bertahan hingga saat ini. Rasa-rasanya tak ada kata yang tepat untuk melukiskan, bagaimana relawan pemulung sampah yang menyebut diri mereka Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor ini konsisten dengan aksi ‘Laskar Karung’-nya. Saya menandai betul, pertama bersua di tepian Ciliwung, tepat dibawah papan panjat, samping lapangan Sempur. Kami berikrar untuk memulai aksi yang riang-gembira, tulus dan tanpa paksaan. Mengurus sungai sebagaimana mengurus titipan kehidupan, memulai dari yang kecil dan sederhana…ya hanya dengan mulung sampah.

Barangkali kata kunci riang gembira itulah yang menjadi kunci dan rahasia relawan laskar karung untuk tetap tulus dan konsisten turun langsung, memulung sampah tanpa paksaan. Energi sederhana yang berdampak luas, menyentil jargon perlindungan sungai dengan aksi nyata. Keterlaluan kalau sampai ada yang mengatakan mereka itu dibayar. Saya menyaksikan betul bahwa ini tak lebih tak kurang sekedar panggilan jiwa.

Meski terlibat pada aksi mulung perdana, saya bukanlah orang yang konsisten turun tiap akhir pekan. Jika dibandingkan antara turun mulung dengan bolos mulung, mungkin terhitung banyak bolosnya. Tapi kami di KPC tidak mempermasalahkan hal-hal yang demikian, kesepakatan kami yang perlu di-konsisten-kan adalah gerakannya, bukan orangnya. Orang bisa berganti-ganti, tapi aksi mulung harus jalan terus. Sms undangan mulung tiap pekan yang saya dan relawan lain terima menjadi daya pengingat dan pengikat bahwa sesibuk apapaun aktifitas kita, aksi mulung sampah janganlah terlupa.

Demikian halnya pada Sabtu istimewa, 22 April lalu. Bersamaan peringatan hari Bumi dan kali kedua saya mulung ditahun 2017. Dari 13 orang yang terlibat mulung, hanya 3 relawan yang familiar, 10 lainnya sepertinya baru pertama berjumpa secara nyata. Meski demikian saya bahagia mendengar dan merasakan bahwa giat mulung sampah sungai kini telah menjangkau berbagai kalangan. Selalu memunculkan pionir-pionir baru diberbagai wilayah bantaran Ciliwung, sejak dari kawasan Puncak, Katulampa, Pulo Geulis, Sempur hingga Bojonggede. Bahkan Pulo Geulis kini telah memiliki aksi arisan Kebersihan yang sasarannya adalah sampah bantaran sungai.

“Kami juga lakukan hal serupa di kawasan Bogor Timur, yang penting ada aksinya,” terang Andi Sudirman, relawan KPC dari Katulampa yang wajahnya akrab saat Ciliwung menunjukan debit tinggi.

Mungkin inilah asa yang bisa kita banggakan dari candaan almarhum Hapsoro saat menceritakan pengalamannya memancing di sungai Ciliwung.”Kalau mancing di sungai sekarang ini sudah terlalu banyak sampah.Yang ada kita malah dapat plastik, bukannya ikan,”

Candaan yang menyadarkan kita tentang bahayanya membuang sampah ke sungai, meskipun itu hanya niat.

KPC Bogor hadir bukanlah untuk memberi solusi sungai bersih. Aksi mulung rutin tiap Sabtu antara pukul 08.00 pagi hingga 11.00 siang rasanya tak akan cukup mengurai masalah sampah sungai. Aksi ini muncul sebagai pengingat dan penggugah kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai. Anggap saja itu olahraga di hari libur, berkeringat dan bisa memberi manfaat untuk umat. Aksi yang sangat diharapkan bisa menular.

Setidaknya itu yang kami dengar dan rasakan sendiri, bagaimana aksi yang semula diikuti 20an orang itu kemudian meluas dan menularkan gejala aksi mulung sampah sungai dengan caranya sendiri. Bahkan relawan yang terlibat terus saja hadir dan berganti-ganti.

 Foto : Sutisna Rey

Selain mulung rutin, KPC juga konsisten menggelar Lomba Mulung Sampah Ciliwung (LMSC) antar kelurahan se-kota Bogor. Ajang yang ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap sungai sepanjang 120 kilometer yang dibentuk dari penyatuan aliran puluhan sungai kecil di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, Jawa Barat. Sungai mempunyai peran yang sangat penting dalam sebuah ekosistem DAS untuk menopang kehidupan masyarakat, baik di hulu maupun hilir.

Terakhir pada Lomba Mulung Sampah Ciliwung (LMSC) ke-8 tahun lalu yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Mei 2016. tak lebih dari dua jam 2183 warga Bogor berhasil mengangkat sampah anorganik sebanyak 2161 karung dari Sungai Ciliwung. Lomba Mulung Ciliwung diikuti oleh 13 kelurahan di kota Bogor yang dilintasi Ciliwung, dari kelurahan Katulampa hingga Kelurahan Sukaresmi. Lomba ini diinisiasi oleh Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan dilaksanakan bersama Pemerintah Kota Bogor sebagai agenda Hari Jadi Kota Bogor ke-534.

Artinya dari delapan kali penyelenggaraan lomba mulung, ribuan warga Kota Bogor telah mengangkat sampah sebanyak 15.939 karung ukuran 25 Kg. Ini aksi dengan angka yang nyata

Lomba Mulung Sampah Ciliwung memang sengaja menyasar warga yang berada di bantaran Ciliwung, sekaligus aksi interaksi warga dalam rangka hari jadi Bogor di 13 Kelurahan, yaitu: Kelurahan Katulampa, Kelurahan Tajur, Kelurahan Sindang Rasa, Kelurahan Babakan Pasar, Kelurahan Baranangsiang, Kelurahan Sempur, Kelurahan Bantarjati, Kelurahan Kedung Badak, Kelurahan Cibuluh, Kelurahan Kedung Halang, Kelurahan Sukaresmi, Kelurahan Tanah Sareal dan Kelurahan Sukasari.

Harapan besar akan terwujudnya Ciliwung yang bersih terus tertanam dalam benak warga sekitar Ciliwung. Aksi-aksi semacam ini akan terus digulirkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan menjadi jejak yang bisa dicontoh bagi orang sekitar yang melihatnya.

Previous
Next Post »