Bersepeda dan Jumpa Sampah di Katulampa




[Penulis: Anggit Saranta]

Sejak memiliki niat meneruskan aktifitas bersepeda dengan destinasi ke Katulampa, saya sering membayangkan peran yang menjadikan lokasi pemantauan debit air ini sedemikian penting. Masa-masa disekolah dasar hingga menengah pertama dulu, Bendung selalu identik dengan irigasi yang menjadi salah satu nadi negeri yang mengandalkan kekayaan agraris. Tapi dengan Katulampa tampaknya menjadi berbeda.

Urusan Katulampa ternyata bukan semata urusan irigasi untuk kepentingan pertanian, tapi lebih kepada upaya pembesar Hindia Belanda melindungi Batavia dari serangan banjir besar Ciliwung. Bendungan karya Insinyur Van Breen sepanjang total 74 m, dengan 5 pintu pembagi aliran dan 3 pintu penahan arus itu diresmikan langsung Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg pada 11 Oktober 1912.

"Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup,", demikian salah satu sambutan sang Gubernur Jenderal sebagaimana dimuat koran Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912.

Jadi, Katoempa-dam atau Bendung Katulampa merupakan bagian dari sistem tata kelola perairan yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda untuk pengendalian banjir. Sejarah telah memaparkan bahwa ini semua memang tentang tentang perlindungan kepada Ibukota (Batavia). Meskipun fungsi irigasi juga dipenuhi dengan mengaliri Oosterslokkan atau Kali Baru, sistem irigasi yang sesungguhnya ada sejak masa tanam paksa (cultuurstelsel).

Peran penting sejak 1912 itu pun rasa-rasanya masih berlaku hingga saat ini. Nyaris setiap hujan melanda kawasan Jawa Bagian Barat, khususnya di Puncak-Bogor, Bendung Katulampa selalu ditunggu kabar terbarunya, utamanya status debit Normal atau Siaga.

Seandainya mau sedikit ‘kreatif’, sejatinya bisa juga menyampaikan status yang berkaitan dengan sampah sungai. Toh selain membendung dan menghempaskan aliran air, dilokasi ini juga mudah ditemui sampah yang terhempas dan tersangkut di bebatuan. Sabtu (6/5/2017) lalu saya menyaksikan sendiri bagaimana sampah sungai yang saya pulung bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor, KPC Bogor Timur dan relawan dari BPSDA Katulampa, seperti terhimpun segar sejak dari atasnya. Lebih dari 30 karung ukuran 25 kg yang kami angkat pada saat itu. Itupun hanya berani mengambil di tepian dan mudah dijangkau saja.


Foto diambil oleh kang Suparno Jumar Kartosomo

Mengendalikan banjir Ciliwung sama pentingnya dengan mengendalikan sampah sejak diujungnya. Apalagi sampah seperti plastik, serat pakaian, kemasan makanan, styrofoam, pembalut atau popok, hingga sampah non organik yang bersifat ringan, dapat dengan mudahnya mengapung dan terbawa aliran air hingga ke pesisir laut. Perlu diketahui pahwa plastik itu bersifat non-biodegradable sehingga bahan beracun penyusunnya dapat tersuspensi hingga dasar laut.

Jika Katulampa penting sebagai penanda banjir Ciliwung, tentunya penting juga sebagai penanda ‘banjir sampah’ di Ciliwung Bogor, Depok, Jakarta dan laut kita. Meminjam data CNNIndonesia.com, setiap tahunnya Indonesia rata-rata menyumbang 3,2 juta ton sampah plastik. Indonesia hanya kalah dari China, penyumbang sampah plastik terbesar di dunia yang menghasilkan 8,8 juta ton sampah plastik per tahun.

Apalagi pemerintah pusat saat ini memiliki target serius untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada akhir 2025 mendatang. Kabar dari Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, pembiayaan untuk upaya pengurangan sampah palstik di laut mencapai $1 milyar dollar per tahunnya.


Demikianlah, kembali pada dunia sepeda saya, setiba di Katulampa saya gagal menikmati sensasi jasmani dan rohani akibat dari bersepeda. Ujung-ujungnya harus berjumpa sampah di Ciliwung Katulampa dengan relawan Komunitas Peduli Ciliwung lainnya.


[ Sumber: http://www.anggitane.web.id/2017/05/jumpa-sampah-di-katulampa.html ]


Previous
Next Post »