Lahan Mainku, Lahan Minumku - Problema Tak Kasatmata di Hulu Ciliwung

Pemandangan hulu DAS Ciliwung dari perkebunan teh Ciliwung, KTH Bike Park Kampung Cibulao

Oleh: Tiara E. Ardi
Buat kamu-kamu yang tinggal di Jabodetabek dan sekitarnya, pasti kamu pernah ke Kawasan Puncak Bogor dong, setidaknya sekali seumur hidup. Apa yang kamu pikirkan kalau mendengar kata Puncak? Wisata? Refreshing? Villa? Atau lainnya?
Tapi, tahukah kamu kalau Kawasan Puncak adalah hulu dari DAS Ciliwung yang juga merupakan sumber air tanah untuk daerah Bogor hingga Depok, serta air permukaan untuk Ibukota?
Hulu DAS Ciliwung berada di daerah yang biasa kita kenal dengan kawasan Puncak, dimana DAS Ciliwung Hulu memiliki luasan kurang lebih sebesar 14860 ha dan mencakup 6 Sub-DAS, salah satunya Sub-DAS Cisarua seluas 2218,92 ha. Sub-DAS Cisarua ini berada di kecamatan Cisarua, Bogor, kira-kira letaknya di sekitar Taman Safari, masjid At Ta'awun, hingga ke puncak Gunung Gede Pangrango. Nah, bisa terbayang kan kalau tempat wisata kita sebenarnya adalah penyangga sumber air kita?
Dari luasan yang tadi disebutkan, hanya kurang dari 50% yang lahannya berupa hutan. Sisanya adalah perkebunan teh, villa-villa, ladang, dan sebagian kecil tutupan lahan lainnya, yang berarti sumber air tanah untuk orang Bogor-Depok dan sumber air permukaan untuk orang Jakarta yang sudah terbatas luasan lahannya harus berebut juga dengan kebutuhan lain terutama pengurangan luasan kawasan resapan air dari pembangunan villa & hotel. Belum lagi air permukaannya sudah tidak bisa dijadikan sumber air minum karena banyaknya sampah dan sedimentasi, terutama di bagian tengah dan hilir DAS. Pun sampah sudah banyak merambah di daerah hulu DAS akibat kegiatan wisata.
Hmm, mengkhawatirkan ga sih? Terlebih sumber air tanah di Ibukota hanya berasal dari DAS Ciliwung bagian tengah saja, yaitu sekitar Depok yang sudah banyak berubah menjadi mall dan pemukiman. Sebagai sumber air permukaan utama untuk Ibukota yang dipenuhi dengan gedung perkantoran, mall-mall, hotel, dan pemukiman umum, sepertinya penting sekali untuk kita menjaga sumber air kita mulai dari hulu hingga ke hilir. Mungkin krisis air ini tidak terlalu terasa di Bogor atau Ibukota karena akses air bersih & air minum masih mudah didapatkan, tidak seperti di daerah luar Jawa atau daerah pelosok di Jawa. Tapi tidak ada salahnya kan kita mencegah krisis tak kasatmata ini? Caranya? Yang paling mudah adalah menjaga perilaku membuang sampah kita.
Dengan kita mengurungkan niat membuang sampah di sembarang tempat, terutama di sungai dan aliran air lainnya, maka secara tidak langsung kita sudah ikut menjaga kualitas sumber air dan lingkungan kita. Boleh jadi kuantitas airnya tetap sama, tapi kalau kualitasnya menurun atau buruk, tetap kita tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal. Singkat kata, tetap saja kita tidak bisa minum itu air karena tercemar. Kuantitas memang penting, tapi tanpa dibarengi dengan kualitas maka akan menjadi percuma. Jadi, ayo kita sama-sama menjaga sumber kehidupan kita dengan tidak membuang sampah sembarangan! Kan kebersihan itu sebagian dari iman. Jangan sampai keimananmu dipertanyakan lho karena kamu berperilaku tidak bersih.

---
(Tiara E. Ardi, anggota Indonesian Speleological Society (ISS), Relawan KPC Bogor)
Tiara di Ciliwung, Tanah Sareal Kota Bogor

Previous
Next Post »