Dewan Air ... Dewa Air yang bijak

Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita panjang lebar soal Daerah Aliran Sungai. Di kali berikutnya ia pun mengurai soal pemanfaatan sumberdaya air yang tidak adil. Di kali lain, ia berkisah tentang sebuah alat yang dapat membantu bernegosiasi diantara para pengguna air dan pengatur air (Pemerintah). Di sela-sela seluruh ceritanya, tak lupa ia mengajakku mendengar dan memahami soal sebuah Dewan yang disebut “Dewan Sumberdaya Air Nasional”.

Apa ini maksudnya? Apa kaitan-kaitannya?

Hingga saat ini aku hampir tak dapat memahami secara lengkap semua cerita itu. Pemahaman otakku yang berkapasitas kecil hanyalah … ini sebuah cerita soal upaya berbuat lebih untuk memastikan adanya pengelolaan sumberdaya air yang berkeadilan. Sebuah mimpi besar yang dicoba untuk dimengerti, dilakukan sehingga bisa dicapai di kemudian hari. Mimpi yang umum dan diharapkan oleh hampir setiap manusia (mungkin) di muka bumi ini. Mimpi agar di kemudian hari air tidak menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati manfaatnya oleh segelintir manusia. Agar mimpi buruk “perang air” tidak terjadi.


Dalam kekerdilan pikirku, aku mencoba melihat sekitar. Bisakah aku berbuat sesuatu yang kira-kira seirama dengan mimpi besar tersebut. Kata kuncinya adalah air, sungai, dan dewan. Karena aku berdomisili di Bogor, maka yang terbayang selanjutnya adalah Ciliwung atau Cisadane. Keduanya adalah sungai utama yang mengalir di Bogor. Setelah bertanya kiri-kanan dan membaca, aku pun jadi mengerti bahwa keduanya merupakan dua sungai yang dikelola dengan tidak adil.

Ada banyak ketidak adilan di sini. Tidak adil pada manusia di hilir, karena banjir di Jakarta dan Tangerang. Tidak adil pada manusia di hulu, karena longsor, erosi, okupasi lahan masyarakat oleh orang kaya, dan konversi hutan selama puluhan bahkan (mungkin) lebih dari seabad yang lalu menjadi kebun-kebun teh dan hutan pinus. Tidak adil pada mahluk hidup yang lain.

Di kota Bogor sendiri aku menjumpai sejumlah ketidakadilan dalam versi dan perwujudan beraneka ragam. Anehnya sebagian besar berada di tempat-tempat yang dikenal banyak orang, bahkan ada yang tak sadar menikmatinya. Beberapa yang hal besar yang kutahu adalah:
  • Limbah cair asal pabrik konveksi besar kebanggaan kota Unitex yang dibuang di Ciliwung

  • Tumpukan limbah rumah tangga (domestik) dan sampah plastik di sekitar perumahan tepian Ciliwung dan Cisadane, tak terkecuali kawasan tinggal yang nyaman di sekitar Sempur, Kedung Badak Baru atau Bukit Nirwana Residence.

  • Pembelokan sungai seperti halnya Plaza Jambu Dua.

  • Pendirian bangunan2 berukuran besar di lereng-lereng sungai seperti CafĂ© Centrum, Gumati Kafe, dan Hotel Braja Mustika.

  • dsb dsb dsb …
Lalu di mana letak dewan-nya? Masih dalam kekerdilan pikirku, mungkin tak perlu mencari di mana dewan tersebut berada. Telapak, tempatku berkarya akan menjadi anggota Dewan Sumberdaya Air itu. Tentu harapannya Telapak mampu berperan besar dalam memastikan pengelolaan sumberdaya air yang lebih adil.

Selamat menjadi Dewan Air, semoga mampu berperan aktif, bijaksana dan welas asih mendekati sifat-sifat Dewa Air, Dewa Sungai, Dewa Mata Air dan Dewa Danau dalam kisah-kisah jaman dahulu kala. Namun tidak menjadi Dewa Air yang bersifat angkuh, kejam, dan melanggengkan ketidakadilan.

Aku siap membantu kawan … karena aku pun ingin berbuat sesuatu bagi air dan
sungai di Bogor. Semoga Telapak bisa menjawab (minimal) sebagian besar
ketidakadilan pengelolaan sumberdaya air Ciliwung dan Cisadane.
Ketidakadilan seperti halnya yang telah aku sebutkan di atas.
Previous
Next Post »