Menggugah Kepedulian Kita pada Mbah Tjiliwoeng

Mau berbagi cerita minggu lalu, semoga tidak bosan untuk membaca dan menyebarluaskannya...

Kami mengusung spanduk bertuliskan "Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak" dengan lebar 3 m x 6 m, dan dipasang di tiang listrik di Lapangan Sempur Bogor, ingin menggugah siapa saja. Siapa saja yang tua, muda, anak2, maupun sebangsa setanah aer ataupun yang bukan sebangsa dan setanah aer, agar jeda sejenak dari rutinitas sehari2nya yang mikirin kerjaan, mikirin makan, mikirin duit, mikirin pacaran n mikirin jualan, mikirin sekolah, mikirin jalan2, mikirin jabatan dan mikirin kampaye untuk pemilu nanti, untuk ikut bersama saling kenal dalam terapi air di Sungai Ciliwung.

Karena menurut para ilmuwan bahwa air merupakan sumber energi paling kuat dan dahsyat untuk menyembuhkan segala penyakit, kecuali korupsi. Nah, alangkah indah dan asiknya dalam suasana kebersamaan kita bisa menghilangkan semua hal di atas. Turun sejenak (hanya 15 menit) mencelupkan kaki dan menggerakan tangan untuk memungut sampah yang bertebaran di Ciliwung sebagai perubahan tingkah pola kita terhadap alam yang selama ini sudah sangat banyak memberikan kita keuntungan dan kemudahan dalam hidup.

Mungkin itu hanya sedikit kata2 atau juga sedikit ungkapan yang aku sampaikan. Jadi jangan terlalu percaya, karena seperti kampaye itu bisa saja hanya janji2 atau iklan palsu seperti yang sekarang banyak beredar. Contohnya obat palsu atau bajakan dari negerinya Hong Fei Hung sono...

Tanggal, 15 Maret 2009, kemaren aku dengan teman2 mo menggugah siapa saja untuk bisa bersama2 untuk peduli lingkungan di sekitar kita. Misi kami adalah melakukan pembersihan sungai Ciliwung setiap minggu, dimana dan kapan saja ada sampah yang menghambat arus nadi kehidupan Ciliwung kami pasti ada. Sok jagoan sekali yaa... kelihatannya.

Misi mulia ini kami mulai pukul 08.00 pagi sampai jam 11.00, karena menurut primbon saat-saat inilah kehidupan mulai merangkak di sekitar Ciliwung, seperti aktivitas mandi, buang sampah, buang hajat, dan lain2. Sehingga moment ini juga bisa menarik minta para pembuang ini supaya ikut dan mudah2 tidak melakukan kejahatan buang-membuang lagi ke dalam sungai Ciliwung yang umurnya sudah semakin tua. Karena semakin tua umurnya Ciliwung juga kadang2 suka marah dan ngambek, sehingga sering tetangga sebelah seperti Jakarta dimarahin dan dikirimin banjir. Ciliwung yang dulunya masih sabar dan arif sudah sampai batas kesabarannya. Seperti juga kesabaran dan kearifan seseorang ada batasnya, makanya kami berharap Mbah Tjiliwoeng tidak lagi merajalela.

Kurang lebih 80-an orang dengan menenteng2 karung gula warna putih turun ke Ciliwung untuk pungutin sampah. Kalo teringat dengan salah satu filem Indonesia yang fenomenal saat ini yang berjudul LASKAR PELANGI, atau seperti Iklan Jamu Gendong yang juga LASKAR JAMU, maka kami bisa disebut juga LASKAR KARUNG, karena dengan semangat 45 kami bawa2 karung untuk pungutin sampah di Ciliwung.

Memang, jika dibandingkan dengan jumlah penonton, kami kalah banyak. Apalagi di Lapangan Sempur kalo hari Minggu pagi orang numplek dari segala ras dan kasta. Dari yang hanya jual body sampai jual omongan juga ada. Tapi kami tidak patah semangat dan sangat yakin bahwa ajakan dan gerakan kami ini pasti banyak yang mau ikut. Contohnya adalah satu keluarga bule yang tinggal di Sempur sempat mendatangi kami yang masih berbau sampah, dan mengutarakan keinginannya untuk ikut “mulung” di Ciliwung. Mungkin dikiranya kami pemulung benaran dan dapat duit dari jual sampah. Tapi yang jelas sudah ada orang yang mulai tertarik dan peduli terhadap Mbah TJILIWOENG.

Kepada teman2, sahabat, kawan, n saudara-saudara sebangsa dan setanah aer, baik warga Bogor n warga Indonesia semuanya, mari kita peduli lingkungan dan pada minggu depan kita akan turun lagi di sekitar LAPANGAN SEMPUR –KOTA BOGOR, silahkan bergabung!

Salam, Ejhon

Previous
Next Post »