Sketsa Tjiliwoeng (Ciliwung)

Tjiliwoeng (Ciliwung), sungai yang melintasi wilayah Bogor, Jawa Barat hingga kawasan DKI Jakarta. Meander sungai yang berkelok-kelok dan mengular ini telah menyiratkan sejarah panjang betapa pentingnya (nilai strategis) keberadaan sungai yang menunjang kehidupan manusia pada setiap masanya. Sungai ini memberikan kemudahan bagi setiap pengguna manfaat di setiap masanya.

Sungai yang berhulu di kawasan puncak Bogor ini merupakan monumen alamiah yang menjadi sumber kebudayaan manusia mulai kebudayaan masyarakat purba sampai masyarakat masa kini. Menurut arkeolog Hasan Djafar Sepanjang aliran Ciliwung merupakan pusat peradaban sekaligus kegiatan perekonomian pada masa lalu. Ribuan artefak purbakala di bantaran Tjiliwoeng menjadi bukti betapa pentingnya eksistensinya kala itu.

Sejarah masa lalu adalah sejarah kejayaan dan kemasyhuran sungai ini. Ia telah melewati periode sejarah panjang dan berliku. Sungai ini menjadi saksi bisu sejarah panjang peradaban manusia di bumi, yang tak pernah berhenti untuk mengambil nilai manfaatnya. Sejarah Tjiliwoeng masuk dalam dimensi masa peradaban manusia purba, lalu masuk peradaban Padjajaran hingga manusia modern.

Besarnya nilai kemanfaatannya seolah tak ada lelahnya terus dan terus dieksploitasi hingga kini. Hingga dimana ia saat ini berubah fungsi peruntukkannya menjadi tempat pembuangan sampah terpanjang bahkan menjadi toilet gratis dan menyejukkan, bukan menjadi tempat untuk melangsungkan hidup yang asri.Namun dengan angkuhnya ia tetap mengalir dan memberi sumber penghidupan meskipun terkadang menjadi sumber ancaman (hazard potency) bagi penggunanya.

Kini kemurkaan DAS Tjiliwoeng telah menampakkan rupanya. Ia datang tatkala musim penghujan datang. Kengerian dan ancaman kerusakan serta kerugian dari bencananya adalah buah yang harus diunduh oleh masyarakat-manusia yang berprilaku cenderung merusak dan tak mengindahkan kelestarian lingkunganya. Ia kini cenderung sensitif dan menunjukkan kemurkaannya setiap tiba waktunya-musim hujan. Banjir Tjiliwoeng adalah bentuk ancaman dari deras lajunya jeram sungai, yang lebih disebabkan oleh keserakahan ulah tangan manusia (man made disaster) yang tak menghargai hidup harmoni bersama alam. Bencana banjir yang lebih banyak dipicu oleh kerusakan lingkungan DAS dan bukan bencana alam (natural disaster).

Ia kini menyempit dan terjepit diantara beton, seng, triplek, gubuk, dan gedek. Di hulunya sana, ia serasa diperkosa oleh kokoh bangunan tombok villa-vila menjulang mewah dan menghadang. Ia tak leluasa untuk bergerak. Ia tak ada ruang untuk menyerap dan meresapkan tetes air hujan di sekeliling dan sepanjang DAS. Ia hanya bisa meneruskan tingginya debit air yang memasuki badannya. Tak kuasa untuk menghambat laju limpasan air permukaan yang mengimbuhinya.

Sedangkan dihilirnya sana, ia berubah menjadi hitam pekat. Layaknya wajah seorang pendosa, meskipun ia tak pernah melakukan kejahatan sekalipun. Wujud yng sangat kontras dari awalnya
Ia hanya korban para lalim-durjana yang tak pernah mengerti apa arti keberadannya. Semua bentuk kejahatan manusia ini ia saksikan semuanya. Mungkin setiap detik Sampah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) baik rumah tangga maupun industri menjadi santapan sehari-hari. Dan tinja pun berlenggak-lenggok, layaknya goyang gergaji sang dewi, yang mengapung mengikuti aliran jeramnya. Sungguh-sungguh ironi, energi besar dan sumber penghidupan bagi manusia sepanjang masa dihancurkan oleh tangan-tangan manusia sendiri.

Tjiliwoeng kini menunggu uluran tangan-tangan sang pengabdi-pecinta untuk berbagi dan membangun harmoni. Pada dasarnya ia tak pernah meminta untuk kita beri, ia hanya dan hanya meminta kesadaran sosial (social awareness) kita, yang tanpa tak kenal henti terus memanfaatkannya dan sekaligus meracuninya dengan sampah-sampah kita. Ia tak tak pernah menyisakan sampah. Ia hanya menyisakan kemanfaatan yang terkadang berbuah menjadi ancaman akibat ketidakmampuannya menannggng kebusukan sebagian diantara kita kepadanya, meskipun ia dibawah pengelolaan institusi pemerintah, yang terhormat, BP DAS Citarum-Ciliwung. Namun ia tetap saja pesakitan. Sekali lagi ia hanya menunggu kita semua.

Ditulis oleh Mustaghfirin
Email : mtfirin@gmail.com
Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
17 Maret 2009 17.14 ×

Terima kasih banyak atas tulisannya Bung Firin.
Tetap semangat untuk peduli Ciliwung.
Semoga semakin banyak yang mendukung pergerakkan kita.

Reply
avatar
Moes Jum
admin
18 Maret 2009 10.29 ×

Firin yang budiman,

Aku terkesan dengan kata2 terakhirmu "Namun ia tetap saja pesakitan. Sekali lagi ia hanya menunggu kita semua". Jika semua manusia di sekitar Ciliwung tak mau berbuat, maka sejarah peradaban sudah hampir pasti menjadi pesakitan. Kemudian, para manusia itupun bisa jadi akan turut menjadi pesakitan.

Let's act!! Everytime we can spare our little time to act

Reply
avatar