Bersih-Bersih Sungai dan Pendidikan Lingkungan Buat Anak

"Emang airnya bersih"

Aku mengajak anak ku ikutan aksi bersih sungai ke-TuJuH di hari Minggu ini. Dia tidak percaya kalau kita bisa turun ke aliran sungai di bawah jembatan Pasar Jambu Dua. Bahkan ketika kita turun menggunakan tangga yg digantungkan dengan ban dalam sepeda ke pagar besi, dia masih tidak percaya kalau itu jalan untuk turun.

Agak jijik dia pada awalnya saat kita lepas dari tangga bambu. Terang saja, bau busuk menyengat dari buah2an yg dibuang begitu saja ke badan sungai. Beberapa meter berjalan, tergeletak sekitar 10 kepala ayam. Seseorang baru saja mencuci ayam di pinggir sungai dan meninggalkan kepalanya berceceran begitu saja.

Entah siapa yg ngajarin, tapi yg pertama dia lakukan adalah bermain batu. Dia ambil beberapa buah batu dan dia lempar ke dalam air sungai. Tidak puas dengan batu ukuran kecil, dia coba dengan batu2 besar seukuran kepal orang dewasa. Sebelum akhirnya dia masuk juga ke dalam sungai dan bermain air.

Kemudian dia asyik bermain pasir. Sampai akhirnya dia bosan dan mencari posisi dan permainan lain dimana pasir bisa digali2 dan sebuah ikan lele temuan Om Hari yg disimpan di dalam plastik, bisa dimasukkan ke dalam lubang itu. Kubiarkan saja dia mencari keasyikan sendiri. Tontonannya di Cartoon Network, Disney, Winnie the Pooh, memang banyak memberinya inspirasi tentang bagaimana mencari keasyikan di setiap lingkungan yg ada.

’Emangnya airnya bersih', tanyanya. Sebongkah kotoran manusia (maaf) mendekati kakinya, berputar2 sebelum akhirnya hanyut terbawa arus. Kuceritakan bahwa tempat pemancingan Fishing Valley, yg kita pergi mancing tadi malam, mengambil air dari Kali Ciliwung.

Ada pipa paralon berukuran diameter 3 cm yg diberi beban batu agar tidak mengambang atau terbawa arus. Tidak sengaja dia telah memindahkan beberapa bongkah batu pengganjal pipa itu. Dan dia begitu penasaran untuk melihat ujung pipa dan kenapa harus ditindih batu-batu.

Dia masih menemukan pipa paralon lainnya, beberapa meter ke arah hilir. Kali ini dia beruntung karena ujung pipa lebih mudah dilihat. Sebuah rajutan kawat dicoba dipasang di ujung pipa untuk melindungi dari sampah.

Kupastikan kita melihat pompa dan ujung lainnya dari pipa paralon yg ditempel di pembatas jembatan pasar. Sebuah pompa listrik berukuran 30 cm rapi disembunyikan. Kemudian sebuah selang plastik nempel di sisi lain dari pompa itu. Penasaran kita ikuti selang plastik. Dan ternyata berujung di tukang jual buah2an.

Semoga dia dan kita semua bisa berbuat lebih baik untuk sungai dan tanah air ini. Apapun itu bentuknya.


Penulis
Rita Mustikasari (Telapak)
Jalan Pajajaran No 54, Bogor 16143. Indonesia.
tel: +62 (0)251 8393-245
fax: +62 (0)251 8393-246
Homepage= www.telapak.org
Email= ritamustikasari@telapak.org

Kedaulatan Politik. Kemandirian Ekonomi. Kemartabatan Budaya.

Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Anonim
admin
27 April 2009 16.15 ×

kalau menurutku airnya bersih keliatanya tetapi aku juga gak bisa jamin kalau air sungai ciliwung tidak tercemari. karna menurut penuturan pak Iyan ( tukang kerambah ) ikan yang ia tanam di kerambahnya banyak yang mati dari pada yang hidup ( 100 ekor yang mati bisa 70 ekor ) kalau melihat dari obrolan pak iyan menurut perkiraan ku, air tjiliwoeng tercemar, karna lima tahun yang lalu belum separah sekarang kata pak iyan, ikan yang ia tanam lima tahun yang lalu masih rumayan bagus dan kalau pun ada yang mati ngak separah sekarang menurut penuturan pak iyan. bersih endaknya air tjiliwoeng tergantung yang memanfaatkan kemaren juga ada tukang penjual gorengan yang mencuci wajannya di sungai tjiliwoeng, apakah itu juga terjamin kebersihannya, apakah gorenganya juga bepengaruh ke lezatannya. itu sih tergantung yang memanfaatkan nya sja sih menurutku tetapi air sungai tjiliwoeng di bogor, menurutku masih lumayan bersih ketimbang air sungai tjiliwoeng jakarta. tapi ngeri juga ya lawong air sungai tjiliwoeng sekarang di buat nyuci pengorengan dan bahkan di buat mandi( kayak zaman doeloe ajae ) sungai masih di manfaatkan buat keperluan masyarakat banyak. tetapi apakah masyarakat yang di hulu ciliwung perduli, dan apakah masyarakat di bantaran peduli, akan kebersihan air nya dan akan manfaat sungai sendiri. untuk itu mari kita bersemangat untuk mengajak masyarakat lebih perduli akan kebersihan dan di timbulkan dari diri kita sendiri dan dari sekitar lingkungan kita. tetapi seru juga kalau melihat anak mbak itok main di bantaran ciliwung ( jadi ingat teapoe doeloe waktu diriku masih kecil suka mandi di sungai ) he he jadi malu. KIKUK

Reply
avatar
Anonim
admin
28 April 2009 15.38 ×

JAWAB Shout MIX

RAme RAme Bawa karung ringan sudah beban kita.
suar-suar suara merdu melantuntan kepedulian.
ajakan teman yang ku ikuti adalah bagian dari imanku.
sapu lidi tertata rapi tak se rapi sungaiku ini.
banyak sekali temanku, lum tentulah juan mereka peduli.
rame-rame kita ke kali mengajak kepedulian.
hari minggu hari pilihan sebagai rasa kepedulian.
ranah tanah tumpukan sampah suatu simbol ke tidak perdulian.
sungai tjiliwoeng sungai pasundan menuntut tangan-tangan yang perduli.

Sair kikuk

itulah mbak permasalah orang kita ketika ada uangnya aku yakin pasti buanyak yang ikutan dan karna ciliwung uangnya aja hasil kencrengan ya ngimana ya? dan aku bersyukur diantara orang yang tidak perduli masih ada yang perduli terimakasih Saudaraku atas keperdulianmu pada tjiliwoen terutama komunitas peduli ciliwung (KPC)dan masyarakat yang perduli dimana pun anda berada.

rintihan tjiliwoeng terhadap anaknya

semangatmu bagaikan derasnya air tjiliwoeng, yang memperjuangkan bantaran tampah sampah dan pencemaran. hatimu bagaikan batu tjiliwoeng yang melawan hantaman sampah yang yang tersangkut, untuk menahan perihnya perilaku, ke tidak perdulian. hamparan tjiliwoeng adalah tempat yang nyata untuk kita perhatikan, yang mana bantaran nya perlu kita jaga kelestarianya, dari kerusakan tangan-tangan yang tidak bertangung jawab, pada tjiliwoeng. tjiliwoeng murka serasa menangis menatap bantarannya selalu penuh akan sampah. dan setiap tahun tjiliwoeng mengigatkan kita akan murkanya yang telah dilakukan olehnya. jakarta, jakarta engkau lah korbanku itu adalah kesalah tangan-tangan saudaramu di atas, yang mana aku menunggu( Tjiliwoeng ) alur tanganmu, untuk menjagaku dari ke djoliman saudaramu. wahai anak pinak ku mengapa dierimu mebawa segemgam sampah pada ibumu ( tjiliwoeng ) jawab itulah ibu! penghuni bantaran ku, tangan nya tidak perduli akan diriku, kalau begitu apakah? perlu ibu ingatkan jakarta, untuk ikut merangkul tanggung jawab, dan menuntut agar tangan-tangan mereka tidak mengulangi lagi perbuatan nya.

tapi ibu apakah aku juga boleh memporak porandakan orang yang ada di sekitarku ( anak Tjiliwoeng )? lum saatnya anak ku cukup kita ingat kan di hilirnya dulu kalau pun mereka sibuk akan luapan diriku dan kalau pun mereka belum perduli juga, mari kita berkerjasama menghancurkan bantaranmu dan akan aku tampung amarahmu, dan akan ku bawa hasil amarahmu ke jakarta sana. untuk sekedar mengingatkan penghuninya, dan akan ku bikin sibuk merekan akan jalurku, dan itulah kekuasanku karna merekalah yang menjadikan ku murka tiap tahun nya.

hanya ejekan kecil untuk diriku biar aku selalu ingat. salam kikuk

Reply
avatar