Oleh-oleh Dari Situ Daun (Part 3)

Meprek,,,menghancurkan batu "kemiskinan".
"Sungai adalah sumber kehidupan". Bagi ibu-ibu ini kalimat diatas sangat tepat. Setiap hari mereka berangkat ke sungai untuk mengais rejeki. Bermodalkan karung dan palu, wanita-wanita perkasa ini mengangkat batu kerikil, dan menghancurkannya menjadi kepingan yang lebih kecil. Semua ini mereka lakukan untuk melanjutkan kehidupan.

Seusai mengikuti pengukuran Kualitas Air bersama teman-teman MSP'43, Ruby istirahat di bangunan kecil tempat Ibu-ibu itu bekerja. Lumayan lah,,,berteduh dari sengatan matahari, sampai angkot jemputan datang. Cukup lama juga dialog antara Ruby dengan salah satu Ibu disana.

Seorang Ibu berbaju kuning, bertanya mengenai kegiatan kita disungai. Ruby menjelaskan bahwa kita adalah mahasiswa dari IPB yang sedang praktikum di sungai, untuk melihat kondisi sungai masih bagus atau tidak bagus.

Tanpa di minta, Wanita yang saya perkirakan 70an tahun itu, menceritakan kejadian tragis. Konon, sungai ini pernah terjadi banjir. 14 orang mahasiswa yang sedang berkunjung di Curug Luhur, terbawa arus sampai lokasi tempat ini. "Ya, semua dibaringkan di tempat ini berjajar 14 orang. Bapak-ibu mereka cuma bisa nangis saat datang kesini melihat anaknya yang terbaring tanpa nyawa" tutur ibu, seraya menunjuk ke tanah (Tempat duduk mereka saat inilah, lokasi yang dimaksud). "Yang selamat cuma 1 orang, karena waktu banjir datang dia baru mau turun ke sungai" lanjutnya.

Tertarik dengan tumpukan batu, Ruby pun mengalihkan pembicaraan. Berikut dialog yang terjadi antara Ruby dan Wanita yang katanya pernah menjadi pembantu rumah tangga di Kediaman Hamzah Haz ini.
Ruby : "Ini batu punyai siapa bu?"
Ibu : "Punya Haji Asep, orangnya tingal diseberang sungai ini".
RubY : "Biasanya dalam sehari dapat berapa?"
Ibu : "Sehari biasanya dapat 5 kaleng (kaleng bekas kue, berbentuk kotak), 1 kaleng dihargai Rp. 1.000,-".
Ruby : "Jika sehari dapat 5 kaleng, berarti ibu mendapatkan Rp. 5.000 / hari. Lumayan juga ya Bu?".
Ibu : " Ya,,,dari pada bengong dirumah, lebih baik meprek batu. Lumayan buat tambahan beli sayuran. Pagi-pagi saya harus ngangkat batu dulu dari sungai pakai karung, setelah itu di peprek disini. Ini aja baru ambil lagi dari sungai".
Melihat angkot jemputan, Ruby pamitan untuk menutup pembicaraan mereka. "Bu, saya pulang dulu ya, teman2 sudah pada jalan ke angkot. Terimakasih ya bu". Sang Ibu hanya senyum dan mengangguk, dan melanjutkan pekerjaannya.

Meprek atau memecah batu ini, sebenarnya dapat di jumpai di beberapa daerah di Indonesia. Anehnya, pekerjaan "kasar" ini banyak dikerjakan oleh kaum ibu. Umumnya mereka terpaksa melakukan ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam www.beritacirebon.com pada 22 Januari 2009 memberitakan tentang Desa Pemecah batu di Cirebon. Namun di Desa Sampiran ini, kebanyakan yang berprofesi sebagai pemecah batu adalah perempuan. Tahun 2008, 3 stasiun TV swasta (21 April) menayangkan berita yang bertema sama yaitu, "Hari Kartini dan kehidupan perempuan pemecah batu". Ke-3 TV swasta tersebut, memandang bahwa perempuan batu ini adalah Kartini masa kini, karena perjuangan mereka dalam menghidupi keluarganya.
Sebuah emansipasi ataukah eksploitasi perempuan? atau malah sebuah keterpaksaan?. Saya sendiri kurang tahu. Yang pasti dari kegiatan meprek ini, menunjukkan bahwa sungai adalah sumber kehidupan bagi perempuan-perempuan perkasa ini. Menghancurkan batu berharap bisa "menghancurkan kemiskinan" dalam keluarganya.
SELAMAT HARI KARTINI 21 April 2009.
(Tim Riset Tjiliwoeng)

Previous
Next Post »