Beda Sungai Bali dan Sunda

Sejenak tercenung melihat riak Sungai Ciliwung yg tertahan batu-batu besar di bawah kolong Jembatan Jalak Harupat. Buih-buih putihnya terurai mengalir terbawa arus. Apa yg membedakan sungai ini dengan beberapa sungai yg baru kulihat di Pulau Bali beberapa hari lalu?

Hanya ada satu atau dua sungai besar yg mengalir di pulau itu. Selebihnya hanya kutemui beberapa sungai kecil yg berukuran pendek. Kebanyakan sungai ini kering, tidak ada air mengalir, hanya bebatuan yg terlihat kering terkena terik matahari. Hanya di bagian hulu sungai dimana mata air mengalir, terlihat ada aliran air.

Karakteristik pulau ini memang unik. Ada satu istilah yg mengungkapkan bahwa gunung dan pantai bisa ditemukan dalam satu kesempatan. Bukit-bukit yg terhampar membentuk sungai-sungai kecil yg jumlahnya puluhan dan mungkin ratusan.

Sang KPC 001 kembali memberi komando agar kita melanjutkan mulung tahap kedua. Aliran Sungai Ciliwung seperti ini adalah kondisi yg biasa kita temui pada setiap minggunya. Begitu juga jenis sampah yg kita pulung. Beberapa anakonda yg nyangkut di batu-batu dan di kaki jembatan berhasil kita angkut keluar sungai. Tentu saja tidak semuanya. Susah payah 5 orang laki-laki menggotong anakonda naik ke pinggiran sungai.

Hal sampah seperti ini juga yg membedakan dengan kondisi sungai di Bali. Beberapa sungai kecil yg kulihat mengalir di beberapa desa yg kulalui, tidak kutemukan sampah plastik bececeran. Apalagi jenis anakonda. Hanya bebatuan berwarna abu kecil dan besar. Tidak ada sampah plastik mengambang. Di beberapa sungai besar yg mengalir ada airnya, terlihat penambangan pasir dan tentu saja beberapa kelompok pemancing. Itu saja. Tentunya ini pengamatan singkat saja. Silakan jika ada yg mau melengkapi.



--
Rita Mustikasari
Perkumpulan Telapak
Gedung Alumni IPB
Jalan Pajajaran No 54 Bogor
Tel 62 251 393 245
ritamustikasari@telapak.org
www.telapak.org

Previous
Next Post »