Tembok dan Tembok Lagi



Penggunaan Prinsip Ownership Lahan Pinggiran Sungai dan Konsekuensi Enclosure (penembokan) di Hulu DAS Ciliwung.
Kenapa publik harus terlibat ke dalam pengelolaan air di Indonesia ini? Aku jawab dengan lantang karena publik pengguna air adalah pemilik langsung sungai, apalagi kalau para pengguna air ini benar-benar tinggal di sepanjang sungai dan menggantungkan nafkah hidupnya di sana. Ayo kita periksa apa konsekuensi dari berpikir dengan cara ini.

Seorang kawan mengoreksi. Hati-hati dia menjelaskan bahanya berpikir dengan prinsip ownership seperti itu. Enclosure itu yg akan terjadi. Kepemilikan pribadi akan memagari kawasan yg dirasa menjadi hak pribadinya. Mereka akan membuat tembok tinggi agar batas satu kawasan dengan kawasan tetangganya menjadi jelas. Mereka akan membatasi orang yg bukan hak nya untuk masuk dan menutup akses jalan atau fungsi lingkungan lainnya. Oalah pantas saja sepanjang nyusur Ciliwung kemarin yg kami temukan hanya tembok dan tembok melulu! Akhirnya kami harus malang-melintang melintasi sungai dan merasakan dingin dan arus deras Ciliwung, agar kami bisa melanjutkan nyusur.

Lahan pinggiran sungai berubah fungsi menjadi hanya komoditi semata. Lahan itu bisa diperjualbelikan, apalagi setelah diurus sertifikat tanah. Dengan mudah lahan bersertifikat itu dijual ke orang luar umumnya orang dari kota yg datang dengan kapital (baca: orang kaya atau pengusaha hotel atau pejabat yg punya duit segunung). Mereka membeli lahan pinggir sungai dan membangun vila di atasnya, baik untuk rekreasi keluarga di akhir pekan, disewakan ke tetangga dan handai taulan, atau secara serius dikelola menjadi hotel baik berbintang atau berbulan (nggak ada yah kategori hotel berbulan).

‘Tuh yg ngerusak sungai vila XXX (saya kurang nangkep nama vila yg dimaksud)’ dan lapangan golf (sambil menunjuk baliho besar tepat di pinggir jalan), kata seorang ‘pak ogah polisi cepek’ di perapatan Gadog. Waktu setengah jam karena terjebak buka-tutup arus searah hari Sabtu sore itu kupakai untuk ngobrol soal sungai. Bahayanya nongkrong di perapatan sambil ngobrol ngalor-ngidul seperti ini adalah keasyikan lupa diri. Ooo ibu tuh seperti dosen yg suka meneliti, ‘Kenapa atuh belum jadi dosen juga?’ Sempat-sempatnya lagi tuh preman nanyain begini: ‘Ibu tuh perempuan atau laki-laki?’

Mungkin tidak ada dalam memori di kepalanya konsep seorang perempuan yg bicara langsung melihat ke mata lawan bicaranya, nyaman saat digodain, dan bertanya sesuatu yg membuat dia bercerita yg sesungguhnya ingin dia ungkapkan. Nggak kebayang juga bagaimana dan kemana seseorang seperti dia yg pekerjaan sehari-harinya saja tidak tercatat di BPS (biro pusat statistik), tapi punya perhatian terhadap sungai dan perubahan alih fungsi-lahan seperti yg terjadi di tempat dia tinggal.

Saya pernah ngumpulin warga yg keberatan karena air sumur jadi berkurang dan mengering setelah sebuah vila nyedot air tanah untuk keperluan kolam renang water boom-nya. Akhirnya saya dan dua teman saya dipanggil ke kantor polisi dan dipertemukan dengan si pemilik vila. Dua orang teman saya jadi diam setelah mereka mendapat amplop. Saya sendiri yg akhirnya berurusan dengan polisi.

Ah nyaris menangis mendengar cerita orang ini. Dan beberapa menit setelah pukul 1500 arus naik ditutup, gantian arus turun yg dibuka. Giliran angkot yg kutumpangi melaju turun membawaku ke kota Bogor tercinta. Cukup lengkaplah petualangan hari ini. Melihat langsung bagaimana teori dan praktek pembangunan yg diterapkan pemerintah sesungguhnya terjadi di DAS Ciliwung.
Previous
Next Post »

2 Komentar

Click here for Komentar
Moes Jum
admin
18 Februari 2011 09.55 ×

Betoel itoe jang dibilang sama freeman Gadog poen. Bijarpoen dia freeman tapi ternjata tjoekoep faham soal kali Tjiliwoeng, minimoem lebih berani komentaar.

Djadi maimang Tjiliwoeng soedah dikoeasai tembok moelai dari hoeloe soengainja jaa ...

Ini toelisan jang bagoes dan djoedjoer. Saloet boewat Itok!!!

Reply
avatar
19 Februari 2011 18.01 ×

air oh air dirimu butuh wadah (tempat ) untuk mengalirkan gerak langkahmu. wadahmu adalah tempat berjalan mu berupa paritan entah kecil maupun besar dirimu tak perduli, yang penting dirimu berjalan menuju hilir. seperti itulah tjiliwoeng sekarang walaupun kanan kiri nya di tembok yang penting ada jalan pasti nyampai juga di hilir nya.

Reply
avatar