Mulung Bareng PHKA dan MAPALA se-Bogor




Bekerja dan belajar bersama. Apa yg orang harapkan dari sebuah sungai, potongan asa dari bawah Jembatan Sukamulya.

Bergotong-royong untuk kebaikan bersama, ungkap Sandi dalam salah satu poto uplotan dari BB-nya. Kubilang: ‘ah ini gerakan masal yg sesaat’. Tidak jelas juga apa dan bagaimana relevansinya dengan gerakan air yg mau dicapai. Sangat seremonial, cut ribbon, hanya di permukaan, nggak beda dengan kelompok orang demonstrasi, atau seorang pencinta alam sebuah perguruan tinggi negeri ternama yg kelak pas lulus kerja memburuh di perusahaan dan enggan lebih jauh menerima tantangan persoalan negeri ini. Bukan artinya kegiatan seperti ini tidak berguna lho, hanya untuk memahaminya sesuai porsinya. Mungkin benar jika kegiatan ini lebih pas jika dikatakan sebuah kegiatan untuk mendidik diri kita sendiri, untuk lebih memahami sungai dan alam sekitarnya.

Usaha yg dilakukan PHKA terhadap MAPALA Bogor. Orang PHKA itu bilang kita sering mengundang semua pencinta alam yg ada di Bogor untuk mengadakan diskusi lingkungan rutin. ‘Tapi yg dari Lawalata yg tidak pernah hadir’. ‘Ada sekitar 50 orang yg ikutan mulung hari ini’, kata seorang pegawai PHKA berseragam kaos oranye lengkap dengan berbagai logo menempel di kaosnya. ‘Tuh kaosnya di bawah sana’, dia mengarahkanku agar bergabung memakai kaos pembagian abu-abu berlogo sebuah perusahaan panas bumi di Sukabumi.

Mendadak Jembatan Sukamulya, Kelurahan Sukasari terlihat ramai dengan kesibukan pasukan kaos abu-abu. Dengan mudah dibedakan teman-teman dari KPC tetap memakai kaos yg dipakai dari rumah masing-masing. Padahal kita tidak janjian tapi kok bisa kompakan yah, ‘bangga dengan apa yg dimiliki’.


Bergotong-royong untuk kebaikan bersama, ungkap Sandi dalam salah satu poto uplotan dari BB-nya. Kubilang: ‘ah ini gerakan masal yg sesaat’. Tidak jelas juga apa dan bagaimana relevansinya dengan gerakan air yg mau dicapai. Sangat seremonial, cut ribbon, hanya di permukaan, nggak beda dengan kelompok orang demonstrasi, atau seorang pencinta alam sebuah perguruan tinggi negeri ternama yg kelak pas lulus kerja memburuh di perusahaan dan enggan lebih jauh menerima tantangan persoalan negeri ini. Bukan artinya kegiatan seperti ini tidak berguna lho, hanya untuk memahaminya sesuai porsinya. Mungkin benar jika kegiatan ini lebih pas jika dikatakan sebuah kegiatan untuk mendidik diri kita sendiri, untuk lebih memahami sungai dan alam sekitarnya.

Bergabung dengan kelompok pegawai PHKA yg bekerja sambil melempar joke, ibu-ibu PKK yg asik bakar-bakar daun kering dan kayu-kayu yg berserakan di pinggiran sungai, dan anak MAPALA. IBIB kata seorang diantara mereka mentertawakan diri sendiri karena tidak seberuntung anak-anak mahasiswa, institut ini bingung itu bingung. WAPALAPA Akademi Kimia Analis, Universitas Pakuan, Universitas Juanda, dan Lawalata. Asap bakaran sampah daun-daun kering masuk mata membuat perih dan buram penglihatan. Bu Rina dan Pak Bob terlihat baru turun dari motornya dan segera bergabung ngangkutin karung-karung sampah.
Previous
Next Post »