Petani dan Pengumpul Pasir di Cilebut. Hasil Nyusur Ciliwung Sabtu 2 Juli 2011.


Mengumpulkan pasir 1. Bekerja dari pagi sampai tengah hari. Memakai celana pendek. Memasukkan setengah badan ke dalam badan sungai. Mengayak pasir dan batu yg diambil dari dasar sungai. Memisahkan batu dan menumpuk pasir di pinggiran sungai.


Mengumpulkan pasir 2. Jika sedang beruntung, sehari bisa dapat 5 karung pasir. Kira-kira cukuplah untuk satu colt pasir. Dihargai Rp.35.000/colt.


Petani 1. Wah ini bukan lahan saya. Ini punya orang cina, katanya. Saya hanya menggarap saja. Rumah saya di desa sebelah sana.


Petani 2. Menabur pupuk di tanaman singkong.

Petani dan Pengumpul Pasir juga merupakan kelompok pengguna air (water user) yg nafkah hidupnya tergantung langsung dengan aliran Sungai Ciliwung.

Siapa yg memberi perhatian atas keberadaan petani dan pengumpul pasir. Apakah tinggi-rendahnya aliran Sungai Ciliwung memberi pengaruh atas pendapatan kelompok ini. Pengaruh seperti apa yg diterima. Apakah suara dan aspirasi petani disalurkan melalui jalur khusus. Apakah mereka tahu apa, siapa, bagaimana pengelolaan Sungai Ciliwung yg menjadi tumpuan hidupnya.

Perlukah mereka tahu. Untuk apa. Kalau mereka sudah tahu, apakah kondisi sungai akan menjadi lebih baik. Apa pula pedulinya masyarakat yg tinggal di hulu di Kawasan Puncak sana. Atau bagaimana masyarakat di hilir di Jakarta sana.

Suatu hari mereka akan tegas bicara tentang hidup dan kehidupannya. Menyambungkan semua cerita menjadi satu kehidupan yg holistik.

Previous
Next Post »