Mulung KPC Ciliwung 16 Feb13



Kawan, Mulung KPC hari ini hanya dua orang yg turun ke Sungai Ciliwung. Apa terjadi di pagi yg cerah di bawah jembatan gantung pertama, depan SD xx. Siapa saja yg hadir pagi itu dan percakapan apa yg terjadi. Berikut potongan ceritanya.

Kumpul di Lebak Kantin. CP Andi (xxx), begitu bunyi sms bom yg masuk ke telpon genggamku. Turun di halte Boper dan menikmati jalan menurun menuju Jembatan Lebak Kantin. Tidak ada baliho Ciliwung Ruksak yg biasa menggantung saat kita mengadakan kegiatan. Beberapa pemancing sudah mangkal di seberang mesin pencacah KPC. Ngeluyur ke kantor DTE. Nono tidak ada di sana. Andi yg aku kontak untuk mencari kejelasan. Emang itulah fungsinya kontak person.

Ada Pak Ernan http://ernanrustiadi.blogspot.com/. Bawa makanan dan ngisi kencrengan untuk beli karung KPC. Tengkyu Bapak!


Kita ngobrolin cara bagaimana agar yg mempresentasikan hasil penelitian tuh bukan hanya peneliti yg melewati sekolah formal. Penelitian dapat dilakukan siapapun. Orang biasa tanpa latar belakang dan gelar pun, tentu dapat melakukannya. Mungkin tidak seilmiah dan mengikuti aturan baku akademisi. Tapi poinnya, adalah ada persepsi, ide, ungkapan, pandangan, pendapat yg diutarakan di sebuah forum, didengar oleh orang banyak, dari berbagai kalangan.

Justru disitulah tugas dan tantangan seorang peneliti sejati. Membantu agar hasil penelitian dari orang biasa itu dapat dimengerti berbagai kalangan. Entah bagaimana caranya. Mungkin memang perlu 100 mahasiswa melakukan riset bertema Ciliwung. Atau praktek lapang di Sungai Ciliwung yg menawarkan berbagai topik penelitian.

Saat ini ada banyak kelompok yg entah tergabung atau tidak tergabung, tetapi sesekali berhubungan sengaja atau tidak sengaja. Yg jelas kami mimpi yg sama atas Ciliwung yg bersih. Setiap kelompok masyarakat punya ketertarikan dan kebutuhan berbeda. Tidak apa. Ada yg beneran informal, hanya nongkrong di warung kopi. Ada yg sudah mengelola beberapa projek donor atau sumbangan dari pemerintah/swasta. Ada banyak banyak bentuk dan corak kerja.

Tawarannya Pak Ernan menarik dipikirkan. Bagi siapa saja yg merasa berbagi mimpi yg sama untuk Ciliwung bersih.
Ada Kang Sunar yg katanya mau nganter tantenya ke Jakarta. Ada Pujo yg katanya mau bayar-bayar tagihan pertemuan FWI minggu lalu di sebuah hotel. Semuanya pamit pergi. Tinggal saya dan Andi yg mulung pagi ini.

Tepat di bawah Jembatan Lebak Kantin. Dua tahun lalu. Rasanya kok sama. Anakonda sampah Ciliwung karena banjir besar baru saja lewat. Tidak banyak sampah-sampah yg melayang. Lebih banyak sampah yg menggumpal bergulung-gulung, nyangkut di batu atau keramba. Cuma dapet 4 karung. Itu pun terasa berat karena anakonda basah memang khas banget.


Apakah dua tahun ke depan akan seperti ini juga rasanya mulung Ciliwung di Lebak Kantin? Mungkin ada yg salah dengan gerakan sungai ini. Saat banjir semua merengut. Tapi kenapa sampah di sungai masih tetap banyak menumpuk. Kenapa tidak ada tindakan integrasi antara masyarakat dan pemerintah untuk isu sasmpah di sungai? Halooo…

Ada Hari Kikuk dan Pak Ntis yg berniat hendak nyusul saat mulung sudah dilaksanakan. Kikuk masih meringis kesakitan karena nyeri punggungnya. Gak pa pa walau cuma dapet 4 karung. Itu usaha kita untuk hari ini. Apa usaha anda hari ini untuk Ciliwung, kawan?


Previous
Next Post »