Onderzeeër van Tjiliwoeng (bahasa Belandanya kapal selam dari Tjiliwoeng)



Onderzeeër van Tjiliwoeng adalah kapal selam dari Tjiliwoeng yang KPC selenggarakan pada tanggal 23/07/2011 bersama beberapa Komunitas Jakarta-Bogor.

Kapal selam ini sendiri terdiri dari rangkaian bambu yang kebanyakan orang menyebutnya rakit.  Bambu-bambu dirakit oleh warga Bojong Gede, Kampung Glonggong.  Sebagian warga masyarakat Glonggong kepengen menjaga Tjiliwoeng dan menjadikan Tjiliwoeng sebagai tempat Wisata, sehingga dengan sendirinya nanti Tjiliwoeng akan dijaga oleh warga bantarannya.

Rakit ini KPC Bogor namakan Onderzeeër Van Tjiliwoeng sesuai kegunaannya di Tjiliwoeng. Alasan KPC Bogor menamakan kapal selam, karna rakit yang kami naiki di Tjiliwoeng kemaren seperti kapal selam, kadang di permukaan kadang agak tenggelam. Onderzeeër Van Tjiliwoeng adalah bagian dari rangkaian kegiatan susur Tjiliwoeng lanjutan secara estafet setiap bulan.


Onderzeeër Van Tjiliwoeng ada lima rangkai.  Setiap rangkainya dinaiki oleh 5 sampai 7 orang. Onderzeeër Van Tjiliwoeng sendiri melaju bak kapal selam yang mau kepermukaan laut.  Kreyat-kreyuuut udak uduk mentok sana mentok sini, kandas sana kandas sini, diterjang jeram arus Tjiliwoeng. Serunya lagi Onderzeeër Van Tjiliwoeng tahan banting dan teriakan para penumpang Onderzeeër Tjiliwoeng serasa mengarungi jeram grade 5 yang amat dahsyat. Kapal selam ini kami payungi rumah-rumahan atau saung dari atap alang-alang, untuk menyimpan tas-tas dan bawaan para penumpang.

Di setiap kapal selam dinahkodai oleh dua nahkoda di depan dan belakang, setiap nahkoda saling berkomunikasi berdasarkan medan arus jeram Tjiliwoeng.

Asyikkk memang kalau dinikmati kapal selam ini, karna baru pertama kali naik kapal selam/rakit kami para penumpang dan para nahkoda sampai-sampai ketagihan.   Karna kapal selam ini baru dan orisinil masih butuh persiapan dan perlu uji kelayakan untuk kemudian hari. Masih banyak kekurangan yang perlu disiapkan mulai dari bambunya hingga rangkaiannya. Di perjalanan, kapal selam ada yang pecah dan banyak yang putus tali-talinya. Maklum baru/orisinil masih kurang pengalaman dan persiapan yang lebih.



Di sisi lain senangnya naik kapal selam/rakit mimpinya KPC Bogor mengarungi Tjiliwoeng kesampaian, seperti jaman Belanda mengunakan rakit atau seperti jaman doeloe kebanyakan orang Indo mengandalkan rakit atau perahu untuk melakukan perjalanan lewat air. Senang rasanya mengarungi Tjiliwoeng mengunakan kapal selam, walaupun kapal selam yang kami naiki masih perlu banyak pembenahan atau boleh dibilang kurang layak.

Start susur KPC pakai kapal selam dari Bojong Gede, dan finish di jembatan jl. Raya Cibinong belakang intake PDAM Tirta Kahuripan,  Start jam 9 pagi dan finish jam 16.00 seperti susur-susur Tjiliwoeng lainnya.



Previous
Next Post »